Monday, July 11, 2011

Al mamatir

Beberapa waktu yang lalu, sepulang dari bertandang ke rumah Mangku Kardi di L2, berjarak sekitar 20 km dari Samarinda, seperti biasa aku duduk di boncengan motor suamiku beserta kedua anakku. Maklum deh belum punya mobil. Waktu itu siang menjelang sore. Sekitar jam 2 siang, tapi hari masih terasa panas membentang. Sinar matahari terasa pedas membakar kulit.


Sudah memasuki wilayah Samarinda, sewaktu untuk pertama kalinya dalam perjalanan pulang itu kami harus berhenti di lampu merah. Sambil dahi dan mata terus mengerenyit merasakan panas terik membakar kulit, aku sebisanya menutupi Kavyaa yang duduk di pangkuanku agar tidak kepanasan. Dia tidur. “Syukurlah,” batinku. Nah, waktu itulah aku membaca tulisan itu.

Al Mamatir. Tulisan itu terpampang pada papan reklame sebuah penjahit. Tulisannya antara lain, “Menerima Seragam Perusahaan, Kantor, Jas, Safari, PDU, Al mamatir,Dll”.

Aku tercenung. Al mamatir?

Aku bingung. Baju model apa lagi ini. Kalau menilik istilahnya pastilah baju ini masih bersaudara dengan baju model gamis dan sejenisnya. Tidak cukupkah Indonesia sudah dijajah dengan model baju gamis dan sejenisnya, sampai harus ditambah dengan baju model Al mamatir ini?

Aku masih terbingung-bingung, sambil merutuki lampu merah yang tidak kunjung berubah hijau. Sementara di kepalaku masih terngiang-ngiang Al mamatir, Al mamatir. Aku sudah tidak bengong lagi memandangi papan reklamenya. Tapi tulisan Al mamatir, Al mamatir masih terus tertancap di kepalaku. Diputar ulang, diputar ulang.

Tepat saat lampu berubah menjadi hijau, aku mendapat pencerahan. Ah…….!
Almamater maksudnya. Baju almamater.

Aku langsung tertawa terbahak-bahak. Untung Kavyaa tidak sampai bangun mendengar ketawaku. Suamiku sampai kaget, menoleh ke belakang. “Kenapa?” tanyanya.

“Baca tidak tulisan Al mamatir tadi?”

Suamiku langsung terbahak-bahak juga sampai motor kami oleng-oleng.

Bukannya menjawab pertanyaanku, dia malah langsung balik bertanya,“Sudah paham sekarang?”

“Iya,” kubilang.

“Pasti penjahitnya orang Banjar (suku Banjar) dan yang mengerjakan papan reklame juga orang Banjar, sehingga terjadi kesalahan seperti itu”.

Sepanjang sisa perjalanan hingga tiba di rumah, aku masih saja sesekali tersenyum mengingat baju model baru --Al mamatir-- ini.

Kesalahan konyol yang hampir selalu termakan olehku. Karena aku ingat aku pernah bengong juga sewaktu berniat antri bensin di pom bensin, juga bersama suamiku (bagaimana mau antri sendiri, nyatanya aku tidak bisa mengendarai motor ^-^). Saat itu sepi sekali pom bensinnya, hanya ada aku dan satu buah mobil di jalur sebelah. Aku dibuat bengong, saat supir mobil itu begitu membuka pintu mobilnya berteriak ,”Sapi banar”. Lalu dia mengangguk kepadaku.

Aku tersenyum aneh pastinya. Kaget karena mendengar dia memaki-maki dengan kata sapi barusan. Sebelum sejurus kemudian aku sadar. Sepi, maksudnya. Sepi sekali. Halah…. Capek deh…

Masih ada sekali kejadian lagi. Aku pulang kerja waktu itu. Karena suamiku tidak bisa menjemput, aku harus naik angkot. Di hadapanku duduk seorang ibu yang bercerita panjang lebar tanpa diminta tentang anak semata wayangnya pada penumpang yang duduk disebelahnya dengan penuh kebanggaan. Aku yang duduk di hadapannya ikut mengangguk sambil tersenyum menanggapi ceritanya. Sampai ketika dia berkata,” Anakku umpat tis”. Waktu itulah aku blank. Apa itu tis?

Aku malu ingin bertanya.

Omong-omong aku ini orang Banjar. Aku lahir di Banjarmasin. Abahku orang Banjar asli. Aku masih mengerti bahasa Banjar. Gengsi ah tanya tis. Jadi sambil tetap berpura-pura paham ceritanya aku terus mengangguk-angguk dan tersenyum. Sementara itu aku terus berusaha merangkai-rangkai ceritanya. Dan akhirnya, aha…..ketemu. Maksudnya tes. Anaknya ikut tes pegawai negeri. Halah…….

Lagi lagi…..capek deh….

By the way, cerita tentang penjahit di atas tidak ada hubungannya dengan kualitas jahitannya lho ya. Kalau tidak salah suamiku dapat juga baju seragam kantor yang dijahitkan pada penjahit itu, dan hasilnya oke-oke saja. Maksudku cerita ini tidak bermaksud mendiskreditkan penjahit tersebut. Ini hanya kekonyolan pikiranku sendiri. (Idih...takut nih sama UU ITE....wkwkwkkk)

Jadi kalau pendaftaran sapi, coba-cobalah ikut tis penerimaan mahasiswa baru. Supaya kalau sudah tamat nanti bisa pakai baju Al mamatir.

Smile.

Monday, June 13, 2011

Kebaya, Bagaimana Nasibmu Kini?


Tadi malam (13/6/11) aku browsing mencari informasi tentang kebaya. Apa saja deh. Pola kebaya. Orang yang menjual kebaya online. Gambar-gambar kebaya. Pokoknya semua tentang kebaya. Sebenarnya aku ingin menjahitkan kebaya. Tapi tahu tidak? Di kotaku tidak ada penjahit kebaya yang bisa membuat kebaya yang enak di badan. Kebanyakan hasilnya adalah blouse model kebaya. Bukan kebaya. Masak sih aku harus pergi ke Bali menjahitkan kebaya supaya bisa memakai kebaya yang nyaman. Ih…rasanya kok berlebihan.

Aku ingat lebih kurang dua tahun yang lalu, kalau mencari kebaya online yang paling menarik ada di blog punya orang Bali. Sayang aku lupa nama blognya waktu itu. Kini dia sudah punya website. Namanya balikebaya.com

Sekitar dua tahun yang lalu itu, jika kita gunakan mesin search, maka blog balikebaya ini akan muncul di baris pertama. Bukti bahwa dia paling banyak dikunjungi dan dijadikan rujukan maupun tujuan. Kini tidak lagi. Baris-baris awal yang muncul di mesin search paman Google adalah dua website milik pengusaha jiran—Malaysia. Mereka menawarkan aneka model kebaya yang kebanyakan model kebaya panjang agar mudah dikenakan mereka yang mengenakan baju muslim.

Dan hatiku tergelitik hingga ingin ‘mengoceh’ tentang hal ini. Why oh why ? Mengapa oh mengapa? Mengapa orang Indonesia tidak memiliki website yang besar, komplit baik tentang informasi, gallery sekaligus pemesanan ataupun penjualan kebaya ready to wear untuk melayani mereka yang ingin memakai kebaya? Untuk keperluan itu sementara ini hanya ada satu yang lumayan; balikebaya.com. Mana yang lain? Kemana kebaya Indonesia?

Di Indonesia perempuan muslim kebanyakan memakai baju model gamis yang diadopsi dari model pakaian di Timur Tengah. Mungkin bukan sepenuhnya salah mereka. Pasar hanya menyediakan model semacam itu. Tetapi mengapa pasar Malaysia (yang hampir semua wanita muslimnya berpakaian muslim) bisa mengangkat budaya Melayu berupa baju model kebaya menjadi baju muslim sehingga mendongkrak pengusaha mereka (sekaligus membuat ragu-ragu sebenarnya kebaya ini milik siapa?), sedangkan di Indonesia kebaya ditinggalkan?

Kebaya hanya dipertontonkan sebagai olok-olok kaum feodal yang tinggi hati tetapi kikir dan goblok dalan sitkom di layar kaca. Atau pakaian yang dikenakan orang-orang tertentu pada special occasion karena kebayanya sangat sexy, penuh bordiran dan kadang-kadang penuh taburan permata. Betul-betul tidak nyaman untuk dipakai harian. Dan betul-betul mahal untuk kebanyakan orang. Bahkan baju kurung dari Minang maupun Aceh seolah lenyap dikalahkan dengan pakaian model gamis yang sebenarnya tidak jelas indahnya dimana. Apalagi kalau bahan gamisnya bahan biasa. Omong-omong baju muslim model gamis ini juga tidak murah lho..!! Tapi sekali lagi, mengapa budaya sendiri ditinggalkan?

Oh jawabannya tentu saja jelas.

Dengan ketidakbecusan, ke-plin-plan-an pemerintah sekarang ini, sudah terang-terangan kelompok-kelompok Islam mengikrarkan ingin merubah Indonesia menjadi negara Islam. Sala satu caranya adalah mempengaruhi umat Islam Indonesia yang jumlahnya buueessaar ini untuk melupakan sejarahnya, melupakan tradisinya, melupakan adat istiadatnya. Dengan alasan semua itu bertentangan dengan ajaran agama. Tidak Islami—katanya.

Yang Islami yang berasal dari Arab. Cocok atau tidak cocok dengan kondisi geografis, dengan latar belakang budaya, dengan tradisi semula, maupun kondisi ekonomi,-- tidak peduli. Yang penting dari sono.

Padahal sejarah telah membuktikan berkali-kali. Siapa saja yang melupakan akarnya, siapa saja yang melupakan jati dirinya, melupakan asal usulnya, melupakan sejarahnya, akan musnah di telan jaman. Ini Kebenaran. Tetapi sepertinya masyarakat Indonesia sudah lupa dengan semua ini. Tidak mau berkaca. Menutup mata, baik yang lahir maupun yang batin. Hingga buta. Tidak bisa melihat pertanda. Tidak bisa melihat jauh ke depan. Maka hanya ada kehancuran yang menanti.

Jadi, jangan salahkan kalau suatu hari nanti orang akan mencari kebaya ke Malaysia atau bertanya pada pengusaha Singapura. Jangan heran kalau anak cucu kita mengira kebaya itu berasal dari negeri jiran. Jangan sedih kalau kita semua mengalami nasib buruk sebagai bangsa. Karena kita semua telah durhaka kepada Ibu Pertiwi.

Ah….ini baru soal kebaya. Belum soal lain-lainnya.

Oh oh……kapan jaman akan berganti. Semoga aku tetap diberi kekuatan untuk mengarungi jaman ini hingga waktuku nanti.

Semoga ada yang terketuk dengan tulisan ini dan mulai mencintai kebaya sebagai salah satu pakaian asli kita sebagai orang Indonesia. Semoga yang terketuk itu memiliki channel, memiliki kesempatan, jadi bisa mulai mencari pengrajin-pengrajin penghasil bordir, atau sutera, atau tenun. Lalu bisa menemukan atau melatih bila perlu-- penjahit yang bisa menjahit kebaya. Lalu mulai membuat kebaya yang harganya dapat terjangkau untuk segala lapisan masyarakat dan mulai memasarkannya. Menciptakan mode. Menciptakan demand untuk mendukung industri ini. Menciptakan gaya hidup. Sehingga suatu hari nanti industri kebaya akan menjadi salah satu motor penggerak perekonomian di Indonesia.

Begitulah seharusnya kita memperlakukan budaya kita. Dengan menghargainya. Mengenakannya. Melestarikannya. Sambil meraih keuntungan sebanyak-banyaknya dari advantage yang kita miliki ini. Bukan membuangnya. Bukan menyingkirkannya. Bukan memandangnya dengan sebelah mata.

Oh oh… semoga impian ini menjadi nyata. Semoga impian ini menjadi nyata.

Samarinda 14 Juni 2011

Friday, January 14, 2011

Twilight Saga



Hmm....aku sudah lama mendengar tentang Twilight. The novel. Tapi tidak pernah ingin membacanya. Cuma cerita tentang vampir. Apa istimewanya? Jadi meskipun banyak resensi yang muncul menyambut novel ini terbit yang tidak lama kemudian disusul dengan filmnya, aku tetap tidak tertarik.

Robert Pattinson menjadi sangat terkenal setelah memerankan tokoh utama dalam novel itu. Menjadi aktor dengan bayaran termahal selama tahun 2010 di Hollywood setelah memerankan Edward Cullen, sang vampir dari Twilight Saga ini (Belakangan filmnya terus muncul menyusul novelnya). Banyak yang tergila-gila padanya. Aku terheran-heran lagi. Kok Bisa?

Kemudian, by chance aku menonton filmnya. Tidak dengan sengaja. Hanya karena itulah yang ada dan kelihatannya yang paling menarik untuk kutonton pada saat itu.Twilight. Film pertama. Dan...ternyata akupun kena hipnotis juga.

Aku geli mentertawakan diriku. Tapi sungguh bukan main!. RObert Pattinson, dalam aktingnya sebagai Edward Cullen, a gorgeous vampire was really thrilled me. Gara-gara menonton filmnya, yang menurutku banyak sekali 'missing part'nya, aku lantas mencari bukunya. Sekarang aku masih dalam proses membaca buku ketiga, Eclipse. Dan aku makin jatuh cinta dengan tokohnya, with this Edward Cullen, dengan segala kekurangan dan kelebihannya.

Setelah membaca bukunya, aku dapat menyimpulkan dan merasakan bahwa akting Robert Pattinson sebagai Edward Cullen memang memikat. Begitu pas dia memerankan tokoh vampir yang jatuh cinta pada manusia (Bella) dan sepanjang waktu harus berusaha sekuat tenaga mengontrol diri agar tidak melukai orang yang dicintainya,karena sebenarnya vampir dan manusia adalah seperti predator dengan mangsanya. Emosi yang diekspresikan pada gerak dan mimik wajah apakah saat dia merasa sedih, getir, atau ironi. Rasa cinta yang dibalut dengan ketakutan untuk melukai kekasih hati membuat mimiknya terlihat menderita, dan itu dapat tergambar dengan pas pada wajahnya. What a star! Tak heranlah dia mampu mengalahkan 3.000 saingan untuk mendapatkan peran ini, dan tak heran pula bukan kalau dia dibayar sangat mahal untuk itu.

Ceritanya sendiri sebenarnya biasa saja. Novel untuk remaja, tentang cinta terlarang antara vampir dan manusia dan dibelit lagi dengan persahabatan manusia tadi dengan werewolf. Bertambah rumit, bertambah asyik diikuti. Seperti kebanyakan novel remaja masa kini, cerita ini dibumbui oleh pembunuhan, konspirasi, intrik, kebencian, kemarahan, dendam, persahabatan dan kisah cinta yang romantis. Tapi novel ini benar memikat.

Begitu terpikatnya aku tak bisa berhenti membaca sebelum bukunya habis. Aku menyelesaikan buku pertama -Twilight- 2 hari, buku kedua -New Moon- 3 hari, setelah itu aku exhausted karena aku hanya punya waktu membaca pada malam hari dari jam 10 malam hingga jam 3 pagi. 5 hari nonstop seperti itu membuatku kelelahan. Jadi buku ketiga -Eclipse- kubaca lebih perlahan. Lagipula aku terpaksa harus menyelesaikan proyekku yang tertunda gara-gara kena hipnotis Edward Cullen.

Jadi, aku harus mengakui mengapa begitu banyak orang yang mengagumi cerita ini dan tergila-gila dengan Robert Pattinson. I am fascinated too!

Tuesday, November 23, 2010

Jangan Sakit

Beberapa hari yang lalu, aku menengok teman di rumah sakit. Informasi awal tidak jelas. Memang beberapa hari sebelumnya lagi temanku itu mengeluh perut kanannya sakit. Dia meringis sepanjang waktu. Jadi waktu ada kabar dia masuk rumah sakit, kupikir pastilah dia masuk rumah sakit karena sakitnya yang kemaren itu. Tetapi aku bingung karena dia menginap di kamar untuk pasien kebidanan. Tidak terbayang sama sekali apa penyakitnya hingga dia menjadi pasien di ruang kebidanan.

Pertanyaanku terjawab setelah bertemu. Ternyata ceritanya dia memang semula hendak memeriksakan keluhan sakit di perut kanannya itu. Sembari menunggu surat rujukan, dia memutuskan untuk memeriksa sekaligus mengganti spiral (KB) masih di rumah sakit yang sama. Tetapi entah bagaimana proses pengambilan spiralnya bermasalah. Spiralnya patah. Tertinggal di dalam sebagian. Rahimnya sempat diobok-obok --menurut keterangannya, sampai dia kesakitan-- dan bagian yang tertinggal di dalam ditemukan---separuhnya! Artinya masih ada separuh bagian lagi yang masih tertinggal. Dia akhirnya harus dioperasi untuk mengambil patahan yang tertinggal itu. Bukan main! Setelah menahan sakit luar biasa, masih menerima harus dioperasi, masih harus bayar lagi. Aduh! Perut kanannya yang sakit itu malah belum diapa-apakan.

Tidak. Aku tidak sedang ingin bercerita tentang rumah sakit atau ingin menjelek-jelekken rumah sakit atau apalah istilahnya. Aku hanya tercenung mendengar kisah temanku itu yang kesakitan rahimnya diobok-obok. Sakit lho itu!

Aku pernah hamil 3 kali. Dalam kondisi menjelang melahirkan dan harus menjalani pemeriksaan dalam untuk memperkirakan kelahiran saja aku selalu meringis nyeri. Belum lagi mendengar cerita mereka yang dikuret karena keguguran. Sakitnya...kata mereka. Semoga aku tidak mengalami. Membayangkannya saja bikin wajahku berkerenyit tidak karuan seperti sekarang ini.

Itulah yang ingin aku ceritakan. Aku merasa makin maju ilmu kedokteran, rasanya kok makin jauh dari kemanusiaan. Kalau mendengar kisah-kisah semacam ini aku tidak tahan. Mungkin memang harus ada orang-orang yang kuat, yang tega untuk melakukan hal-hal semacam itu seperti merawat orang yang terluka, menjahit, memasukkan kateter(yang pasti membuat si pasien mengerenyit menahan sakit, kadang sakitnya luar biasa), tetapi prosesnya itu kadang kaku sekali. Seakan si pasien ini cuma onggokan daging tidak bernyawa. Padahal si pasien kan manusia yang kenal rasa takut, cemas, sakit. Itulah yang ku maksud makin jauh dari kemanusiaan.

Atau ini cuma karena aku takut dengan segala hal yang berbau rumah sakit mungkin. Aku takut disuntik, ngeri melihat jarum suntik (makanya aku selalu kagum dengan diriku yang penakut ini ternyata tetap bisa punya anak sampai tiga, bayangkan saja prosesnya). Ngeri melihat alat-alat kedokteran yang lain yang ada di rumah sakit. Mungkin alat-alat kedokteran yang tidak kutakuti itu cuma stetoskop. Bahkan alat pengukur tekanan darah bisa membuatku takut karena kadang mereka memompa lengan kita terlalu kuat hingga tangan kita mati rasa.

Entahlah...yang pasti sudah hampir enam tahun ini aku tidak pernah ke dokter. Aku bersyukur penyakitku tidak ada yang berat. Kalau sakit masih bisa diatasi dengan istirahat yang cukup, makan yang banyak atau kadang ditambah sedikit obat umum yang dijual bebas.

Semoga sampai tua bisa kujaga kesehatan diriku dan keluargaku, jadi kalau harus ke dokterpun cukup untuk konsultasi saja, tidak usah sampai dirawat.

Dan temanku itu. Dia sudah pulang dari rumah sakit tapi masih akan kembali ke rumah sakit supaya perut kanannya itu dirawat. Pembengkakan empedu atau apa. Mau dilaser katanya. Entah bagaimana lagi prosesnya. Semoga dia cepat sembuh dari sakit apapun yang dideritanya.

Ah....

Wednesday, July 21, 2010

Mana Pemimpinku...??


Tulisan ini sebenarnya sudah punya kerangka sekitar sebulan yang lalu tetapi baru sekarang dapat dilanjutkan dan dituangkan dalam tulisan seperti seharusnya karena kemalasan yang tidak perlu (keluh!). Baik, mari kita mulai.

Tanggal 15/6 yang lalu saat aku sedang mencari-cari saluran TV yang acaranya enak ditonton, aku dihentikan oleh acara yang sedang disiarkan HBO. Entah apa judulnya. Aku menyaksikan Barack Obama yang presiden US itu tengah menyampaikan pidato kampanyenya sehari sebelum hari pemilihan presiden US tanggal 4 November 2008 di Charlotte,North Carolina. Aku berharap yang kutulis akurat, karena aku tidak menonton acara itu dari awal. Yang pasti, pidato kampanye itu disampaikan dalam suasana Obama sedang berkabung karena nenek yang menurut pernyataannya telah membesarkannya baru saja meninggal dunia pagi itu.

Dalam kondisi seperti itu Obama tetap menyampaikan pidatonya yang terasa tulus dan tetap penuh semangat, penuh energi. Sesuatu yang jarang sekali kita temui dalam pidato pemimpin-pemimpin kita di Indonesia.

Dalam tayangan itu, aku menyaksikan mereka yang mendengarkan dan mengikuti pidato Obama ikut tergetar hatinya, di antara mereka ada yang pelan-pelan mengusap air mata. Betapa isi pidato itu telah membangkitkan semangat pendengar. Mereka yang mengikuti pidato itu paham akan arti memiliki suatu bangsa. Di situ terlihat jelas kepedulian seorang pemimpin kepada rakyatnya. Hal itu dapat kita simpulkan dalri kalimat sederhana seperti," Tadi pagi nenek saya yang telah membesarkan saya meninggal dunia. Dia bukan siapa-siapa, Tidak ada yang mengenalnya. Dia hanya di rumah mengurus keluarganya, anak-anaknya, cucu-cucunya. Tapi dengan begitu, dia telah melakukan pengorbanan yang bisa dia lakukan untuk negara ini. Banyak sekali orang-orang seperti dia. Orang-orang yang telah melakukan pengorbanan untuk negara, tetapi tidak dikenal oleh banyak orang.....".

Bisakah Anda membayangkan efek ucapan semacam itu dengan intonasi, mimik, ketulusan dan semangat yang sungguh-sungguh bagi para pendengar kampanyenya? Aku saja yang bukan warga US, hanya menonton dari TV, terlambat lagi, karena itu kejadian hampir dua tahun yang lalu, masih merasa tergetar. Pidato itu turut membuatku merasa berarti, berharga sebagai wanita, walau 'hanya' bertugas mengurus keluarga, membesarkan anak-anak di rumah. Menyadari bahwa itu adalah suatu pengorbanan besar. Itu adalah pekerjaan besar yang hasilnya bisa mngubah wajah dunia. Obama telah melihat itu, dan menggunakan itu untuk menarik simpati pemilihnya.

Tetapi sekali lagi, pidato itu begitu tulus dan bersemangat. Aku yakin dia sungguh-sungguh dengan apa yang diucapkannya.

Suamiku bilang, hanya (presiden) Soekarno yang pidatonya bisa menggetarkan hati seperti itu. Aku belum pernah mendengarkan pidato Soekarno. Sekarang jadi pengin mendengar juga jadinya.

Setelah kupikir-pikir selepas acara Obama ini selesai, sesungguhnya aku rindu menunggu kemunculan pemimpin-pemimpin semacam ini di Indonesia. Bukan hanya 'seolah-olah' pemimpin seperti yang ada sekarang ini, pandainya membuat berita yang membuat rakyatnya menjadi hopeless. syukur-syukur kalau nggak sampai muntah darah.

Bahkan dalam pidato-pidato mereka, jika disimak ada saja kejanggalan-kejanggalan pernyataannya di sana-sini. Boro-boro bisa menggetarkan hati. Jauh......
Contoh paling gres setelah heboh dana aspirasi untuk anggota dewan bulan Juni lalu adalah TDL (tarif dasar listrik) naik lagi (akibatnya sudah tahu sendirikan saking seringnya naik), pemilihan calon tunggal gubernur BI yang mengantongi sekian banyak kasus, dan masih banyak laaagi saudara-saudara, jika harus disebutkan satu persatu. Lebih baik Anda menonton Metro TV untuk mengetahui hal itu dan saksikanlah para pemimpin Indonesia bersilat lidah tanpa malu dan empati untuk rakyat.

Duh Gusti....!

Friday, May 21, 2010

My Name is Khan


Film ini dibintangi Kajool dan Shah Rukh Khan, dua bintang India favoritku.
Setelah lama tidak melihat mereka berdua main film bersama setelah “Kuch Kuch Hota Hai” yang fenomenal, film ini mengobati kerinduan penggemarnya untuk melihat mereka bersama lagi. Chemistry keduanya itu lho yang luar biasa. (Shah Rukh Khan is so cute and Kajool is sooooooo …..beautiful, and I love them so much)

Aku sebenarnya bukan penggemar film India. Tapi aku suka sekali dengan lagu-lagu dan koreografi tarian dalam film-filmnya. Dulu lagu-lagu dan tarian-tariannya itulah yang menarik perhatianku. Tapi bila kutelusuri lebih jauh, mungkin ketidaksukaanku itu disebabkan olok-olok yang sering kuterima saat kecil aku menonton film India. Orang-orang sekitarku sering berkomentar tentang film India dengan nada mencemooh. Film India tidak realistislah karena jagoannya nggak mati-mati meski ditembak berapa kali, jagoannya pasti menang di akhir film jadi tidak ada unsur kejutan, mau sedih mau senang nyanyi terus joget terus. Dan komentar lainnya yang membuat aku merasa malu nonton film India. Kayak nggak bisa milih film bagus gitu deh.

Yah.dengan mindset yang dibikin begitu, aku betul-betul malu hati sendiri kalau mau nonton film India. Kesannya kok ah…filmnya gitu-gitu doang…belum lagi masalah air mata yang menetes setiap kali nonton, karena ada saja adegan yang menguras air mata (padahal kalo nonton film bule ataupun film awak, mau pemerannya nangis menjerit-jerit tertunduk-tunduk nggak bisa juga bikin aku nangis).

Kurasa itu justru menjadi kekuatan film India, mereka hampir selalu berhasil mengharu biru perasaan penonton. Jadi kalau menonton film India bersiaplah dengan minuman dan snack (karena durasi filmnya yang panjang lebih dari 2,5 jam) dan sekotak tissue (untuk diam-diam mengelap air mata yang netes. Duh!)

Tapi tunggu dulu. Apakah semua orang yang nonton film India bisa nangis? Tidak lho. Atau jangan ngomong film India deh. Apakah semua orang kalau nonton film yang ceritanya sedih bisa nangis? Ternyata tidak. Ada orang yang dengan berbagai alasan tidak tergetar hatinya hingga menangis atau berpura-pura tidak tergetar dan setengah mati menyembunyikan tangis atau ada juga yang menolak tergetar untuk menangis.

Yang pasti, setelah bertahun-tahun aku merenung-renung dan merasa-rasakan, ternyata hanya apabila hati kita lembab, jiwa kita lembab barulah kita bisa tergetar saat menonton atau melihat sesuatu yang menyedihkan atau menyakitkan. Sebenarnya kita bersikap emosional begitu dan menjadi ‘cengeng’ justru karena jiwa kita bisa berempati pada orang lain. Dalam kasus yang lebih besar bisa dikatakan kita bisa merasakan penderitaan dan kesulitan orang lain seakan itu penderitaan dan kesulitan kita sendiri. Ini sungguh sulit. Seharusnyalah kalau kita bisa begitu kita tidak perlu malu, menutup-nutupinya, atau bersikap sok tegar.

Anakku yang kedua, usia 8 tahun, dan mengalami hambatan komunikasi dalam kehidupan sehari-hari. Agak sulit menerangkan sesuatu hal yang sederhana padanya bila tidak ada contoh nyata yang bisa dilihat atau dirasakan. Mulanya aku berpikir dia mengalami kesulitan dalam memahami film juga. Ternyata tidak.

Ini adalah kali kedua aku mengajaknya nonton film (India) bersama, dan ternyata saat scene sedih, dia ikut meneteskan air mata meskipun dia berusaha agar air matanya tidak terlihat oleh siapapun. Dia malu menangis. Hehehe…..lucu memang. Tapi jadinya kupikir dia faham dong dengan jalan ceritanya. Mengejutkan! Wah...tapi paragraf ini nggak ada hubungannya sama tulisan ini. Ok deh.

Bagaimanapun sepertinya 10 tahun terakhir ini perfilman India maju pesat. Film-filmnya sudah ‘terasa’ seperti film Hollywood. Action pemainnya, shoot-shoot gambarnya, tempo filmnya, ceritanya dengan setting mendunia. Perfilman Indonesia? Jauh dah….!

Dalam My Name is Khan ciri khas film India yaitu nyanyi dan joget masih ada meskipun tidak seperti kebanyakan filmnya yang lain. Dalam film ini lagu-lagu hanya menjadi sound track, tidak dinyanyikan oleh pemerannya. Mungkin itu polesan dari kerjasamanya dengan FOX studio Hollywood jadi ada sedikit perbedaan dibanding film India lainnya.

In short, My Name is Khan ok-lah…Anda penggemar Shah Rukh Khan dan Kajool harus nonton. Meskipun ini film serius, SRK masih sempat melucu dalam beberapa scene. Serius tapi lucu gitu loh. Kangen juga sih dengan kekonyolannya yang selama ini menjadi trade mark SRK.

Selamat menonton!

Saturday, April 24, 2010

Ghost Town


Film ini sedang diputar di HBO mulai tanggal 18 April yang lalu. Mungkin akan diputar selama 1 minggu. Dan setelah 3 hari mencoba menemukan jam tayangnya, baru hari ini aku punya kesempatan menonton film ini tuntas dari awal sampai akhir. Ya…3 hari ini aku sudah mencoba menonton, tapi pemutarannya selalu pas pada saat aku harus mengerjakan sesuatu juga, jadi cuma bisa kulihat bagian awalnya, tengahnya, atau akhirnya. Syukurlah akhirnya hari ini aku bisa menonton hingga usai.

Dibintangi actor Inggris Ricky Gervais yang entah kenapa kupikir pas sekali dengan tokoh dokter gigi yang diperankannya (kalaupun ada yang mengganggu hanya gigi taringnya yang kelihatan runcing saat dia tertawa). Juga Greg Kinear dan Tea Leoni yang kusenangi sejak filmnya Family Man bersama Nicolas Cage.

Cerita film ini sederhana, seperti yang juga sering diangkat oleh film-film sejenis yang lain, yaitu tentang let it go, tentang merelakan seseorang yang telah meninggal dunia. Bahwa intinya seseorang menjadi roh gentanyangan, menjadi hantu, itu bukan karena mereka mati penasaran (dalam beberapa kasus memang begitu ya?) tetapi sebagian besar karena yang hiduplah yang tidak merelakan kematian mereka. Urusan mereka belum tuntas dengan yang di dunia. Begitu yang di dunia, yang masih hidup menyadari hal itu, dan sedikit saja tumbuh kerelaan, maka yang mati langsung dapat melanjutkan perjalanannya. Kemana? Wah…di film ini tidak diceritakan dan aku juga tidak ingat pengalaman matiku jadi tidak bisa bercerita di sini…

Tetapi apa yang disampaikan dalam film ini benar adanya. Memang begitulah keadaannya. Bahwa sebenarnya bersama-sama kita hidup sekarang ini juga berkeliaran roh-roh yang belum tuntas urusannya dengan dunia. Hanya kita tidak bisa merasakan keberadaannya. Kecuali mereka yang cukup peka. Dan masalah peka ini, aku punya pengalaman pribadi.

Sewaktu ibuku meninggal karena gagal ginjal 10 tahun yang lalu, aku didera rasa bersalah yang luar biasa karena merasa: adalah kesalahanku tidak bisa mencarikan biaya untuk pengobatan ibuku maka ibuku menjadi meninggal. Karena dihantui rasa bersalah itu, aku juga dapat merasakan roh ibuku disekitarku, dan perasaan itu bukanlah perasaan yang nyaman. Setahun kemudian barulah aku memahami duduk perkara masalahku ini. Segera setelah kesadaran itu timbul, kerelaan muncul dihatiku, aku yang tidak bisa tidur setahun terakhir, hari itu tidur nyenyak untuk pertama kalinya. Saat itu aku tahu, ibuku telah dapat melanjutkan perjalanannya karena aku telah merelakannya. Jadi aku benar-benar paham cerita yang disampaikan film ini karena mengalaminya sendiri.

Kembali pada film ini, inti cerita pada film Ghost Town ini demikianlah. Yang pasti film ini menyelipkan humor ala British yang garing. Seperti pada bagian dr Pincus (Ricky Gervais) bertanya pada rekannya dr Prashar terjadi dialog lucu yang sulit dipahami banyak orang tapi menggelikan buatku.

dr Pincus: Anda berasal dari daerah yang mengerikan itu bukan?
dr Prashar : (dengan ekspresi sebal tapi maklum dengan sifat rekannya) Saya dari India
dr Pincus : Ah ya..maksudku Anda bukan orang Kristen seperti kami.
dr Prashar : Bukan, saya seorang Hindu.
dr Pincus : Yeah..um...Bagaimana cara orang Hindu mengorek keterangan dari musuhnya?
dr Prashar : (sambil tersenyum) Well...sebagai seorang Hindu ...kami akan bertanya dengan sopan....

Hahahaha……Lucu ? Atau nggak paham? …Nggak apa-apa…buat saya tetap lucu.

Atau dibagian lain saat dr Pincus berusaha menjelaskan duduk perkara tentang merelakan yang mati pada Gwen (Tea Leoni), bukannya membahas duduk perkaranya mereka malah membahas masalah penis mumi yang disimpan dalam toples.

dr Pincus : ………….mengapa orang mati harus dikuburkan dengan perhiasan, dengan binatang peliharaan, mengapa harus diperlakukan seperti itu, mereka bahkan menyimpan penisnya dalam toples besar…maksudku mengapa? ...mengapa mereka melakukan itu?.
Gwen : (dengan wajah tidak percaya) kau lihat sendiri penisnya, mana muat kalau ditaruh dalam toples kecil…
drg Pincus : (dengan wajah bingung, tidak percaya dsb) kenapa harus dimasukkan ke dalam toples? …. Ouh….Bukan ini masalahnya ..untuk apa semua itu? ………..…..

Hahahaha……
Aku suka humor semacam ini. Maksudku bukan humor tentang penis ya. Tapi bagaimana dari suatu keadaan biasa yang serius kalau kita lihat dari sudut lain malah terasa lucu.

Yah…dari film sederhana ini macam ini tetap ada pelajaran yang bisa diambil jika kita mau jeli sedikit melihatnya dan tidak menganggap sebuah film murni hanya hiburan semata.

Selamat menonton juga bagi Anda. Siapa tahu ada yang berminat dengan humor garing macam ini seperti saya.

Samarinda 21 April 2010