Monday, September 18, 2006

Buat Anak Kok Coba-coba ?

Samarinda, September 2nd 2006

Anakku keduaku Chitta, sekarang berumur 4 tahun 8 bulan. Di usianya yang sekarang ini dia belum bisa berkomunikasi dengan baik. Dia kenal beberapa kata dalam bahasa Indonesia, beberapa kata dalam bahasa Inggris, beberapa kata dalam bahasa Spanyol. Bukan. Bukan aku yang mengajarnya. Dia belajar dari video Dora, Baby Einstein dan semua video kartun yang ditontonnya. Yang membuatku kesal, dia suka belajar sendiri, tidak mau diajari. Jadi sulit sekali mengarahkannya. Dia berkembang sesuai keinginan hatinya.

Kemampuan verbalnya yang lemah itu tertutup dengan kemampuan motoriknya yang luar biasa. Chitta punya kelenturan tubuh yang menakjubkan seperti umumnya anak kecil. Dia sering menirukan postur-postur yoga yang sulit seperti yang biasa kulakukan setiap hari. Tetapi dia menolak kalau kuajak yoga bersama. Dia gesit, cekatan dan kuat. Tukang urut langgananku sampai menyebutnya ‘duralex’ karena dia tidak pernah lagi keseleo kalau jatuh atau loncat-loncat. Hanya kejadian luar biasa yang bisa membuat dia keseleo lagi.

Dia juga punya daya pikir yang kuat, kemampuan analisa yang bagus, dan ingatan yang hebat. Dia cukup melihat sekali, setelah itu dia bisa menirunya. Atau dia melihat berkali-kali, sampai dia yakin dia bisa mengerjakannya. Tapi, tetap saja dia tidak mau diajari. Komputer sudah jadi mainannya sehari-hari tanpa pernah diajari. Dia hanya perlu melihat. Games-games komputer, malah tidak perlu diinstall, semua bisa dia lakukan sendiri dan tunggu saja beberapa waktu, dia pasti sudah ahli memainkannya. Cara dia menangani komputer mengalahkan kemampuanku. Rasanya begitu dia bisa ngomong, baca, tulis, habis sudah. Aku kalah darinya!

Dia juga suka menyanyi, lagu pilihannya bo….. Josh Groban atau Kitaro. Untuk sementara hanya dua itu. Tapi dia tidak menolak kalau harus mendengarkan Enya atau Sacred Aria-nya Andrea Bocelli atau Charlotte Church. Dia tidak suka lagu pop. Tapi lagu klasik anak-anak dia suka. Musik klasik juga ok.

Chitta jarang makan. Kalau dia makan satu hari sekali itu sudah luar biasa. Dia makan sesuai keinginan hatinya. Tahun pertama dia hanya minum air susuku, sedikit (sekali) susu formula dan sedikit (sekali) bubur instan. Tahun kedua dia masih minum air susuku, sedikit (sekali) susu formula dan keju. Tahun ketiga, dia minum sedikit susu formula, keju dan creepes. Dia suka sekali creepes. Kebetulan waktu itu Yogen Creepes baru buka outlet di Samarinda. Jadilah aku langganan setianya. Tahun keempat dia minum sedikit susu formula, coklat dan mulai makan nasi sekali sehari sepiring dengan telur dadar. Sampai sekarang. Sesekali dia mau makan kentang rebus disiram saus kacang. Atau nasi goreng, atau mie goreng. Hanya sesekali dan sangat menyenangkanku. Kesimpulanku dia makan apa yang dia butuhkan, dan dia tahu yang sedang dia butuhkan. Aku tidak pernah khawatir pada apa yang dia makan, sehingga dia tetap tumbuh sehat dengan segala (baca : sedikit) yang dia makan itu.

Itulah yang ingin kukatakan.
Aku membiarkannya tumbuh sesuai keinginannya. Semua tersedia, tapi dia memilih sendiri apa yang diinginkannya. Aku hanya memantau. Sejauh perkembangan dan pertumbuhannya dalam batas normal, aku biarkan. Tidak ada intervensi. Dan dia tetap tumbuh secara luar biasa.

Aku sering mendengar obrolan teman-temanku tentang anak-anak mereka yang tidak mau makan. Mereka coba ini itu, beri ini itu, vitamin ini itu, susu ini itu. Hasilnya : sebagian tidak berhasil, sebagian lagi malah berak-berak, muntah dan sakit. Di lingkunganku aku belum mendengar mereka yang mencemaskan anaknya itu ada yang berhasil membuat anaknya bisa menjadi seperti yang mereka inginkan. Aku malah kasihan sama anaknya, kok jadi percobaan. Buat anak kok coba-coba?

Tapi setiap orang kan punya pendapat masing-masing. Jadi pastilah menjalankan prinsipnya sendiri-sendiri.

Aku sendiri tetap yakin dengan pendapatku bahwa sesungguhnya setiap dari kita, sejak kecil, sejak bayi, tahu apa yang kita butuhkan dan seberapa banyak kita membutuhkannya. Sewaktu kita kecil, hal itu memang hanya berhubungan dengan kebutuhan dasar makan dan minum. Tetapi seiring pertambahan usia, pengetahuan itu sebenarnya tetap ada. Tetapi seringkali pengetahuan naluriah seperti itu tertutup oleh informasi yang kita terima kemudian. Begitu banyaknya informasi yang masuk bertumpuk-tumpuk sehingga naluri kita menjadi tumpul. Kemudian kita mulai bersandar pada hal-hal di luar diri, pada dokter, pada para ahli, pada majalah-majalah pengetahuan terkini. Padahal orang yang paling ahlipun tidak pernah berhenti belajar lagi, belajar lagi dan menemukan hal yang baru lagi dari waktu ke waktu. Yang tadinya berupa kebenaran, bisa menjadi tidak benar lagi sekarang.

Tetapi begitulah manusia. Umumnya tidak percaya diri. Jadi kalau tidak sama pendapatnya dengan orang lain, atau tidak sama yang dia lakukan dengan orang lain, apalagi dengan para ahli, dia merasa yang dia lakukan tidak benar. Kita sulit menjadi diri sendiri, kalau terus mengutip apa kata orang. Kalau kita terus-terusan meniru apa yang dilakukan orang. Padahal setiap dari kita adalah pribadi yang unik, tidak ada yang menyamai kita. Padahal lagi, segala sesuatu pengetahuan itu harus kita temukan sendiri untuk mendapatkan pelajaran sepenuhnya dari sana.

Aku belajar banyak dari Chitta. Dan aku masih belajar terus darinya. Meskipun sesungguhnya dengan membiarkan dia tumbuh sesuai kehendaknya sendiri itu, artinya akupun sedang melakukan percobaan pada anakku.

Nah, buat anak kok coba-coba :0)

No comments: