Thursday, March 27, 2008

Kartini

The Book

Aku baru saja selesai membaca buku Aku Mau, Feminisme dan Nasionalisme: surat-surat Kartini kepada Stella Zeehandelaar 1899-1903 yang diterbitkan oleh Penerbit Buku Kompas tahun 2004. Judul aslinya On Feminism and Nationalism: Kartini’s Letters to Stella Zeehandelaar 1899-1903 dari Monash Asia Institute, Monash University. Dan setelah selesai membaca buku ini, aku baru menyadari bahwa selama ini aku belum pernah benar-benar mengenal Kartini.

Aku hanya tahu Kartini dari lagu ‘Ibu Kita Kartini’ yang sering kunyanyikan waktu aku kecil. Tetapi pemahaman tentang siapa dan bagaimana seorang Kartini, baru kuperoleh setelah aku selesai membaca buku ini. Aku bahkan memerlukan membaca buku ini sekali lagi untuk lebih memahami maknanya.

Seperti judul bukunya, buku ini memuat surat-surat Kartini dalam periode 1899-1903. Surat-surat itu ditujukan kepada sahabatnya Stella Zeehandelaar, seorang pegawai muda kantor pos di Amsterdam yang juga seorang kontributor untuk jurnal-jurnal di De Hollandsche Lelie. Stella telah menerbitkan artikel berseri pada majalah De Lelie yang kemudian menjadi ‘best –seller Hilda Van Suyverberg’, sebuah novel feminis yang sangat berpengaruh.


Kartini’s Spirit

Saat aku membaca pidato-pidato Bung Karno, keharuan dan semangat kebangsaan bergelora menyelimuti diriku. Saat aku membaca surat-surat Kartini ini perasaanku seperti dialun ombak. Sesekali terhempas sedih hingga ke dasar palung laut. Ikut merasakan pahit getir situasi yang dihadapinya. Di lain waktu semangatku ikut terlambung menjemput langit, membuncah, berkibar dalam optimismenya.

Benang merah utama dari semua tulisan Kartini yang dapat kugarisbawahi dari buku ini adalah tentang kemajuan perempuan. Kemajuan dalam hal berpikir, berucap dan bertindak. Dan dia pun dengan jelas menyampaikan bahwa pendidikan adalah jalan utamanya. Jadi pertama: perempuan harus mendapat pendidikan. Kedua: meskipun dia hanya sekali menyebutnya dengan jelas, dia menentang poligami. Ada kata-katanya yang menjadi favoritku seperti di bawah ini tertuang dalam suratnya tertangal 6 Nopember 1899:

….Aku tidak akan pernah, tidak akan pernah bisa mencintai. Bagiku, untuk mencintai, pertama kali kita harus bisa menghargai pasangan kita. Dan itu tidak kudapatkan dari seorang pemuda Jawa. Bagaimana aku bisa menghargai seorang laki-laki yang sudah menikah dan sudah menjadi seorang Ayah? yang hanya karena dia sudah bosan dengan istrinya yang lama, dapat membawa perempuan lain ke rumah dan mangawininya? Ini sah menurut hukum Islam. Kalau seperti ini, siapa yang tidak mau melakukannya? Mengapa tidak? Ini bukan kesalahan, tindak kejahatan atau skandal; Hukum Islam mengijinkan laki-laki beristri empat sekaligus. Meski banyak orang mengatakan ini bukan dosa, tetapi aku, selama-lamanya akan tetap menganggap ini sebagai sebuah dosa.

(Kata-kataku sendiri tentang poligami,”Aku menolak poligami atas nama apapun bahkan atas nama Tuhan”. Bagiku poligami adalah tindakan yang sangat kejam karena melukai perasaan manusia (baca:perempuan) lainnya untuk alasan-alasan rendah”.)

Tetapi Kartini tidak hanya peduli pada urusan perempuan. Kalau kemudian ternyata dia lebih banyak bicara tentang perempuan itu lebih karena dia sendiri adalah subjek dari masalah itu. Dia pelaku. Dia tahu bagaimana rasanya (baca: kesulitan yang dialami) menjadi seorang perempuan.


Kartini juga menentang tradisi-tradisi kuno yang tidak cocok lagi dengan kemajuan jaman. Hal-hal yang sangat sulit dipahami oleh orang-orang yang tidak pernah bersentuhan langsung dengan gaya feodal raja-raja jaman dahulu. Juga perlakuan-perlakuan sosial yang tidak adil yang harus diterima oleh seorang ‘bumiputera’ karena adopsi gaya feodalisme itu oleh pemerintah kolonial.

Tentu saja Kartini tidak bisa menabraknya langsung, merubah seketika. Untuk hal sebesar itu perlu proses, dan Kartini memulai dari hal paling kecil, paling sederhana, paling mudah, --dari dirinya sendiri. Contohnya seperti dia tulis dalam suratnya tertanggal 18 agustus 1899:

……….Kepada kakak-kakakku aku masih sangat patuh dan menjalankan peraturan itu (seperti jalan jongkok, berbicara pada yang tua dengan kromo inggil, seorang gadis harus berjalan lamban dsb-penulis), tetapi mulai aku ke bawah kami sudah mengabaikannya. Kami tidak lakukan itu lagi. Hidup kemerdekaan, kesetaraan dan persaudaraan! Kami semua; aku, adik-adikku baik laki-laki maupun perempuan merasa setara dan kami berteman. Adik-adik perempuan memanggilku ‘kamu’, bentuk informal dan menggunakan bahasa yang sama denganku………….

Ada pula perenungannya tentang agama seperti ditulisnya dalam suratnya tertangal 6 Nopember 1899:

……..“Tapi kita bisa menjadi orang baik tanpa harus menjadi religius kan Stella? Dan yang paling penting adalah menjadi orang baik.
Agama dimaksudkan sebagai rahmat bagi semua umat manusia, untuk bisa menjadi tali penghubung antara semua ciptaanNya. Kita semua bersaudara bukan karena satu keturunan tapi karena satu Tuhan yang berkuasa di atas
sana. Oh Tuhan, kadang aku berpikir bahwa agama lebih baik tidak ada saja. Karena justru agamalah penyebab perselisihan, perpecahan dan pertumpahan darah dan bukan menjadi tali pemersatu umat manusia. Saudara kandung saling berselisih hanya karena berlainan keyakinan. Perbedaan antara Gereja juga mangakibatkan dinding pemisah bagi dua hati yang berkasih-kasihan.
Aku sering bertanya pada diriku sendiri; apakah agama merupakan sebuah rahmat kalau prakteknya malah seperti ini? Kata orang, agama akan menjaga kita dari perbuatan dosa, namun berapa banyak dosa yang telah diperbuat atas nama agama?”…….

Wow… katakanlah apa yang disampaikan oleh Kartini ‘terasa’ baru pada waktu itu, tetapi resapilah tiap katanya dan kita akan sadar bahwa apa yang disampaikannya hingga kinipun masih relevan, masih terjadi, dan masih menjadi penyebab bencana dan kerusakan yang tak pernah terbayangkan oleh Kartini.

Ibu Rohani

Untuk orang dengan usia semuda dia (saat dia meninggal dunia usianya baru 24 tahun) kata-kata yang keluar dari dirinya sangatlah luar biasa. Begitu bijaksana. Dia itu roh tua. Miris rasanya membandingkan kata-kata yang diucapkan seorang Kartini (yang hanya perempuan!) dengan kata-kata yang keluar dari mulut politikus-politikus kita sekarang.

Betapa pentingnya mengkaji kembali buah pikiran Kartini. Tidak hanya mengingatnya dalam balutan kebaya sederhana dan pengusung emansipasi wanita dan merayakan kelahirannya dengan lomba busana.

Emansipasi –arti asalnya adalah membebaskan seseorang dari kekuasaan orang lain-- menuntut kesetaraan. Jadi wanita dibawah pria?. Tidak, kata-kata ini tidak tepat, karena bagiku pria dan wanita setara, posisi awalnya setara, tidak ada yang lebih berkuasa.Tidak ada yang perlu disetarakan lagi karenanya. Tetapi dengan lewatnya masa, sejarah berbicara, wanita memang telah direndahkan (baca:dikuasai) sedemikian rupa dengan segala macam cara baik lewat kultur sosial, budaya dan agama, sehingga seolah-olah wanita lebih rendah daripada pria, sehingga perlu ada perjuangan untuk meraih kesetaraan. Proses sejarah yang panjang, lama dan menyakitkan ini perlu disadari sepenuhnya: 1. oleh wanita -- agar wanita dapat lebih menghargai dirinya dan 2. oleh pria -- agar pria terbuka mata hatinya, sehingga sama-sama diperoleh kesadaran bahwa wanita dan pria adalah setara.

Kurasa dengan membaca satu buku saja yang memuat surat-surat Kartini ini belum dapat memberi jawaban yang terang tentang siapa dan bagaimana Kartini. Gambaran kita belum utuh. Tapi aku cukup senang karena kini aku tahu alasan mengapa dia tetap dikenang hingga kini: karena buah pikirannya yang sangat dalam, mengagumkan dan dahsyat.

Kata orang apabila kita berupaya keras untuk orang lain, apa yang kita lakukan itu akan abadi. Tapi jika kita berupaya dengan segala cara untuk diri sendiri, hasilnya hanya bertahan sekejap napas yang bisa kautarik. Dan Kartini telah memilih untuk menentang arus, menjadi ibu rohani yang melahirkan ‘yang baru’ meskipun dia harus menanggung derita.

Terima kasih Kartini, karena engkau telah berkenan hadir di bumi Indonesia ini. Bahkan saat nama Indonesia waktu itu belum dikenal, kau sudah banyak memberi arti dan inspirasi tentang nasionalisme pada bangsa ini.

Salut padamu!


Samarinda, 25 Maret 2008

Monday, January 28, 2008

Selamat Jalan Pak Harto!

Kemarin, 27 Januari 2008 pukul 13.30 WIB, telah berpulang Bpk HM Soeharto, mantan presiden RI ke-2. Seluruh stasiun TV memberitakan hal ini secara serentak Ada yang disela iklan, ada yang tidak, ada yang sudah diselipi acara bincang-bincang, ada yang sekilas saja diulas, ada yang mengulang-ulang berita sampai pendengar bosan. Ada yang mengumpat, ada yang menyesali, ada yang sedih, ada yang marah, ada yang kecewa, ada yang tidak peduli. Itulah ekspresi yang diperlihatkan masyarakat atas kepergian Pak Harto.

Bagaimana denganku?

Terus terang aku pernah tidak suka dengan rezim Soeharto as they say he was a dictator(?). Tapi ternyata setelah reformasi yang terjadi tahun 1998, yang katanya melepaskan segenap rakyat dari kediktatoran Soeharto, keadaan Indonesia tidak bertambah baik. Yang kurasakan kemudian hanyalah perasaan tidak aman, tidak tentram, tidak sejahtera, masyarakat kehilangan etika, kita kehilangan jati diri, anak-anak muda kebingungan mencari panutan. Kalaupun ada kualitas yang berbeda hanyalah kini orang lebih bebas bersuara, meskipun kebebasan ini masih dibatasi dalam hal-hal tertentu, dalam arti suara mayoritas tetaplah yang berkuasa.

Secara umum keadaan masyarakat Indonesia tidak menjadi lebih baik. Yang merasakan perubahan berarti tetaplah lingkaran dalam kekuasaan. Kini bahkan semua orang berebut masuk ke lingkaran dalam sehingga saling sikut, tingkah laku tanpa etika terjadi setiap hari. Terutama di kalangan mereka yang mengaku dirinya intelek, terpelajar, pejuang atas nama rakyat, politikus, pengusaha, in short people who stand on top of pyramid. If they don't stand on top, they try hard to get there with all their might, good or bad. Tidak ada yang menegur. Tidak ada yang berteriak. Semua orang bingung, lupa jati diri. Kalaupun ada yang menegur, mereka tidak mendengarkan.

Dulu pernah terjadi, niat baik Pak Harto dengan 'memasyarakatkan Pancasila'nya dimentahkan, dicibir dan dijalankan dengan rasa muak. Tetapi kini, kala segala hal yang berbau rezim Soeharto dibersihkan, orang-orang bingung mencari pegangan baru. Melepas yang lama masih ragu, mau pegangan baru, tapi tidak punya, tidak bisa, tidak tahu. Orang-orang berteriak menolak Soeharto tapi mereka bahkan tidak tahu dirinya sendiri. Lupa akarnya sendiri.

Masyarakat bingung. Terbelah dalam ketidaktahuan.
Sungguh.
Ignorance is a curse. But curse should be vanished.
Where do we start?
Maybe from now on. Lets make this losing of someone great like him as a new start for our consciousness. Our national consciousness.
Why don't we take lesson from him. It should be.

Sayangnya yang terjadi malah orang lebih brutal dari Soeharto, seandainya kekuatan militer dapat terpegang, boleh jadi mereka yang membenci Soeharto akan lebih jahat dan brutal dari pada tindakan yang dilakukan oleh orang yang dibencinya ini. Ini bukan omong kosong. Dalam skala kecil kita di Indonesia sudah melihat dan merasakan hal-hal semacam itu. Kecuali bagi mereka yang sudah terlanjur bebal dan kehilangan akal budi dan nurani, mungkin merasa tidak apa-apa. Semua baik-baik saja.

Back to Soeharto, dia pernah kuidolakan.
Setelah mendengar sana-sini, membaca ini-itu, aku sempat pula sebal kepadanya. But it won't take long.
Saat aku berpaling ke dalam diriku sendiri, aku sadar aku tidak bisa begitu. Aku tidak boleh begitu. Kita tidak bisa menilai orang lain seperti itu.

Seperti kata pepatah, sebab nila setitik rusak susu sebelanga. Begitulah orang mengingat Soeharto. Kesalahan dia punya, pasti (siapa yang tidak selama kita masih bernama manusia?) dan jelas tidak setitik. Itulah yang merusak seluruh kebaikannya. Tapi kita tidak bisa menerima Soeharto dari sisi baiknya saja. Kita harus menerima keduanya. Sisi baiknya dan sisi buruknya. Dan rakyat kecil akan bilang Soeharto lebih banyak sisi baiknya. Mungkin mereka bahkan tidak tahu sisi buruknya.

Tapi mereka kelas elite akan bilang, oh no....he was evil. Bahkan saat Soeharto sakit parah menjelang ajal, mereka masih bisa bilang begini: sebagai sesama manusia saya bisa memaafkan Soeharto, tetapi proses hukum tetap harus berjalan....bla...bla...bla.... (Itu mah tidak memaafkan namanya).

Dan masyarakat belajar dari sana. Oh ... ternyata kita boleh 'memaafkan dengan syarat' seperti itu.

Keadaan ini begitu membingungkan. Begitu menyedihkan. Sampai aku tidak bisa menulis dengan lebih terstruktur, dengan lebih baik.
Mungkin bila dituliskan, dibahas satu persatu akan menjadi sebuah buku. Padahal di awal menulis ini aku hanya ingin mengucapkan:

'Selamat jalan Pak Harto. Seharusnyalah engkau termasuk salah satu putra terbaik bangsa ini. Tidak bisa tidak. Lepas dari semua hasil buruk dari pilihan-pilihan yang telah kau lakukan, kau telah memberi banyak pada bangsa ini. Hal-hal baik tentang budaya Indonesia dan akar masyarakat yang sesungguhnya. Sayangnya tidak tuntas. Atau kau menggunakan metode yang tidak tepat, tidak mengena, atau memang kami rakyatmu yang belum paham sepenuhnya maksudmu.
Selamat jalan Pak Harto. Semoga Cahaya Keberadaan menyertaimu. Dan Damai besertamu selalu'.

Samaarinda, 28 Januari 2008

Wednesday, January 16, 2008

Success

"'Success?' Well, I don't know quite what you mean by success. Material success? Worldly success? Personal, emotional success? The people I consider successful are so because of how they handle their responsibilities to other people, how they approach the future, people who have a full sense of the value of their life and what they want to do with it. I call people 'successful' not because they have money or their business is doing well but because, as human beings, they have a fully developed sense of being alive and engaged in a lifetime task of collaboration with other human beings - their mothers and fathers, their family, their friends, their loved ones, the friends who are dying, the friends who are being born."

Parade (March 9, 1997)

This is a quote from Ralph Fiennes. I got it from ralph-fiennes.net and I agree for what he said what success about. That is the real succcess mean -- in my opinion. But unfortunately many people measured success as only material success. Not many people appreciate the successful as ‘you are and your world that give you happiness’ only. They just simplify it by material success.

According to that, I am not the successful person either. I am not really happy, I am not really engaged with my environment, my family, my friends. I am alienated, at least I feel alienated all the times. So … successful is far away from me.

Luckily, Ralph had show me what succesful is. And maybe I should take backward a few step and stop to think what I’ve been doing wrong. Start evaluating my relationship to other people around me, my kids, my spouse, my (very few) friends, my brother and sisters. Take a few breaks. Take a deep breath.

I think if we can live the life to the fullest, we can live here and now, mean every single word we say, then we can be called as success people.

Is it? Or is this just a hopeless thought of a person who feel really unsuccessful?

Wednesday, January 02, 2008

Va' Dove Ti Porta Il Cuore


Kemarin aku membaca ulang buku ini. Karya Sussana Tamaro, penulis Italia yang memilih menyendiri untuk membaktikan diri sepenuhnya pada menulis. Buku ini selalu kutuliskan menjadi salah satu buku favoritku, tetapi aku sendiri sudah lupa apa yang telah membuatnya menjadi favoritku. Jadi untuk mengingat, kubaca sekali lagi. Dan cukup membaca pengantarnya saja aku sudah ingat kembali kenapa buku ini selalu menjadi favoritku.
Va' dove ti porta il cuore – pergilah kemana hati membawamu. Sebuah kalimat yang biasa saja kecuali… kau berhenti sejenak dan memahami maknanya. Inilah petunjuk hidup yang sesungguhnya. Inilah rambu besar jalan kehidupan yang diberikan kepada setiap manusia. Lucunya rambu sebesar itu sering kali tidak terlihat atau sengaja tidak dilihat atau malah ada yang tidak tahu kalau rambu itu ada.
Sebenarnya apa yang dia tuliskan di buku ini telah banyak juga dituliskan orang lain. Tulisan-tulisan yang sama yang telah lama pula coba kuhayati, kupahami. Tetapi di buku ini apa yang dituliskan itu memiliki rasa berbeda karena dituliskan dengan begitu indah. Dengan sepenuh hati, dengan kedalaman makna dan kehalusan bahasa.
Aku hanya membaca buku terjemahannya dalam bahasa Indonesia dan sudah dapat merasakan keindahannya. Seandainya aku mampu membacanya dalam bahasa aslinya –Italia- mungkin keindahan yang kurasakan akan terasa lebih lagi.Tapi aku tidak bisa mendapatkan dalam versi aslinya. Jadi inilah.
Cobalah ini:
Dan kelak, di saat begitu banyak jalan
terbentang di hadapanmu
dan kau tak tahu jalan mana yang harus
kau ambil, janganlah memilihnya dengan
asal saja, tetapi duduklah dan
tunggulah sesaat. Tariklah napas
dalam-dalam, dengan penuh kepercayaan.
Seperti saat kau bernapas di hari pertamamu di dunia ini.
Jangan biarkan apa pun mengalihkan
perhatianmu, tunggulah dan tunggulah
lebih lama lagi. Berdiam dirilah, tetap hening,
dan dengarkanlah hatimu.
Lalu ketika hati itu bicara, beranjaklah,
dan pergilah kemana hati membawamu’
Atau yang ini:
‘Ketika jalanmu bercabang kau berpapasan dengan kehidupan lainnya. Berkenalan atau tidak dengan mereka, terlibat dengan mereka atau membiarkan mereka lewat begitu saja, semua itu tergantung semata-mata pada keputusan sesaat. Meskipun mungkin kau tidak mengetahuinya, hidupmu dan hidup orang-orang yang dekat denganmu dipertaruhkan saat kau memilih, entah berjalan lurus atau berbelok’ (va' dove ti porta il cuore hal 77)

Kadang tulisannya sangat feminin seperti ini:
‘Hubungan antara dirimu dan rumah dan apapun di dalam dan di sekitarnya adalah salah satu hal yang hanya dapat dipahami setelah kau mencapai usia tertentu. Pada usia enam atau tujuh puluh kau tiba-tiba sadar bahwa rumah dan kebunmu lebih dari sekedar kebun dan rumah tempat kau hidup nyaman, entah karena kebetulan atau karena tempat itu indah. Tapi itu rumahmu, kebunmu, mereka milikmu sama seperti rumah kerang adalah milik kerang yang hidup di dalamnya. Cairan-cairanmu telah membentuk kulit kerang itu, sejarahmu ada di antara garis-garisnya, rumah kerangmu membungkusmu, dan mungkin kehadiranmu, kebahagiaan dan kegetiran yang kaurasakan di sana, akan terus hidup di sana bahkan setelah kau tiada’ (va' dove ti porta il cuore hal 49)

Kadang tulisannya membuatku merasa seolah-olah waktu berhenti, seperti ini:
‘Di rumah masa kecilku ada pohon ek. Pohon itu begitu besarnya hingga diperlukan dua orang untuk bisa memeluk batangnya. Sejak berusia empat atau lima tahun, aku suka sekali mendatanginya. Aku duduk di sana, merasakan kelembaban rerumputan di bawah tempatku duduk. Aku menarik napas dalam-dalam dan tahu ada tatanan yang lebih tinggi atas segala sesuatu dan bahwa aku serta semua yang kulihat termasuk di dalamnya. Meskipun aku tidak mengerti musik, sesuatu dalam diriku bernyanyi. Aku tak tahu melodi macam apakah itu, bukan lagu melainkan lebih mirip melodi yang lahir dari hembusan napas di dekat hatiku; dan hembusan ini membungkusku, raga dan pikiran, bersinar bagai cahaya dan mengalun bagai musik. Hidup membuatku bahagia, dan tak ada apapun yang mengisi benakku selain kebahagiaan itu’ (va' dove ti porta il cuore hal 80)

experiencing God?
Aku tidak tahu.
Membaca baris-baris kalimat itu membuatku kembali merasakan perasaan yang selalu tidak dapat kukatakan dengan tepat. Rasa seperti bila kau duduk tenang di atas perahu yang bergerak pelan dihanyutkan riak sungai atau seperti sebatang kayu pasrah terapung mengikuti arus air.
Perasaan hanyut yang menyenangkan, dihanyutkan tapi kau tidak hanyut. Rasa indah yang dalam, jauh di jurang hati. Ceruk jiwamu seperti dibasuh dengan embun. Seperti kau duduk di taman yang kau kenal tapi kau tidak ingat dimana taman itu berada. Perasaan damai menyelimuti dan mengisi rongga dadamu dengan napas baru. Perasaan indah yang universal, mendalam dan membuatmu ingin lagi dan lagi kembali ke sana.
Hanya membaca bukunya saja aku merasa bahagia. Aku merasa dekat dengan tokohnya :sang nenek Olga. Aku belum menjadi nenek dalam kehidupanku ini, tapi dalam melihat dan menimbang suatu peristiwa, aku menemukan kedekatan dengan sang nenek seolah kami adalah orang yang sama.
Aneh.
Tapi seperti kata pengantar yang diberikan oleh Prof. Ostelio Remi, Direktur Pusat Kebudayaan Italia, Atase Kebudayaan Kedutaan Italia, Jakarta, buku ini sangat dianjurkan untuk dibaca oleh mereka yang memberikan ruang bagi hati untuk membuat pilihan dan ruang bagi perasaan dalam hubungan antar manusia.
And for sure, this is one my favorite books

Friday, December 28, 2007

Use Your Brain...Use Your Brain!

Koran Kaltim Post kemarin halaman pertama: hujan lebat rendam pulau Jawa. Karanganyar, Solo, Wonogiri, Trenggalek, Madiun dan Blitar. Tanah longsor akibat hujan lebat terus menerus menjadi bencana ikutannya.

Akibat global warming? You bet!
But do you know what I read on the next page of the same newspaper :MUI Nunukan desak perda tempat maksiat. Juga meminta perda untuk mengatur penarikan zakat dan pengawasan orang yang tidak berpuasa (wua hah..ahahaha..) yang katanya berlaku khusus untuk umat Islam. Pengaturan tempat penampungan TKI agar tidak bercampur pria dan wanita. Peningkatan pemahaman, penghayatan dan pengamalan ajaran agama di masyarakat terutama pelajar dengan cara .......betul sekali! Mari kita tambah jam pelajaran agama di semua jenjang pendidikan. Plok..plok...plok.....plok.....hebat!

Read all of those lines,I don't know what to say.Speechless. Like we're living on another planet.

Knock..knock... wake up men!
We are dying and you talk about morality and other religion rules measured by YOU!
Give me a break!

Siapa sih orang-orang ini? Sadarkah mereka apa yang sedang mengancam semua umat manusia di muka bumi?

Sebagian kecil orang telah sadar, sebagian kecil lainnya lagi baru sadar apa itu global warming -pemanasan global-.

Sebagian besar orang lainnya belum tahu, tidak tahu, bahkan ada yang tidak peduli. Celakanya bagian yang besar ini bukannya mendapat penjelaskan bagaimana manusia dan alam terhubung dalam suatu lingkaran, biasanya malah dijejali infomasi bahwa semua bencana itu adalah UJIAN dari Tuhan. Cobaan. Tes kesabaran.

Tidak ada penjelasan bahwa alam dan manusia mempunyai hubungan sangat erat. Bahwa manusia sangat tergantung pada alam. Bahwa aksi pengrusakan alam oleh manusia mengakibatkan reaksi alam untuk menyeimbangkan keadaan. Aksi buruk manusia membuat alam tidak seimbang, jadi reaksi alam yang manusia terima buruk pula dalam usaha membuat alam kembali seimbang.

Masalah siapa yang membuat kerusakan adalah masalah lain lagi. Katakanlah keserakahan barat telah membuat nasib seluruh umat manusia terancam, tingkat konsumsi barat yang tinggi telah memperburuk keadaan bumi dari masa ke masa, lalu apa? Menyalahkan barat? Menyuruh barat bertanggung jawab?

Begitulah seharusnya. Tetapi itu tidak mengubah keadaan bahwa kita semua harus menanggung akibatnya. Bahwa ada yang harus kita lakukan untuk mengatasi akibat buruk ini dan mengusahakan keselamatan seluruh umat manusia dengan tidak menambah kerusakan baru di muka bumi.

Prioritas utama kita sekarang adalah meningkatkan kesadaran setiap manusia untuk lebih bertanggung jawab pada dirinya, pada alam sekitarnya. Tidak usah berusaha untuk bertanggung jawab pada seluruh dunia, cukup diri sendiri dan alam sekitarnya. Itu sudah cukup untuk membuat perubahan.

Tidak usah dipusingkan masalah moral, masalah pencampuran pria wanita, masalah tempat maksiat. Kalau pulau-pulau di Indonesia tenggelam karena peningkatan tinggi permukaan air laut, siapa yang bisa buka tempat maksiat, siapa yang masih perlu tempat maksiat, siapa yang bisa berzakat saat tak ada lagi tempat untuk berusaha, mencari makan, mencari hidup. Use your brain! Use your brain!

Belajarlah bertanggung jawab. Itu cukup untuk menjawab seluruh masalah moral, etika dan budi pekerti. Semua masalah yang ingin dibuat perda seperti yang ditulis di atas itu berawal dari tindakan-tindakan pribadi-pribadi yang tidak bertanggung jawab.

Jadi penyelesaian masalahnya hanyalah: jadilah orang yang bertanggung jawab. Jangan terbiasa melemparkan kesalahan pada orang lain, atau yang lebih buruk menjadikan Tuhan sebagai kambing hitam.

Daripada meributkan perda-perda yang ujung-ujungnya untuk pemenuhan kebutuhan akan kekuasaan, lebih baik melakukan tindakan nyata, misalnya membuat hijau tanah pekarangan dengan menanami pohon, tidak menutup habis lahan yang dimiliki untuk menambah luas rumah.

Mengelola sampah, mengurangi pemakaian AC, pemakaian kresek, tissue, pemborosan kertas. Menghemat air. Mengurangi pemakaian deterjen. Belajar, mencari tahu bagaimana mengolah air laut yang asin agar layak minum dan dapat digunakan untuk keperluan sehari-hari.

God! Banyak yang dapat kita lakukan sebelum kita sendiri yang mendapat amukan bencana. Sampai saat ini Kalimantan umumnya tidak mendapat musibah sebanyak penduduk di P Jawa. Mungkin karena relatif di Kalimantan masih lebih banyak hutan (kita mau bertahan sampai kapan? sementara tidak ada orang MUI yang juga berdiri di barisan Green Revolution, meskipun mereka memakai warna hijau untuk keperluan apa saja. Mereka bilang itu mah bukan urusan agama. Pathetic!).

Sudahkah aku memberi solusi. Sudahkah? Karena tidak ada gunanya mengeluh. Kita harus bertindak sekarang. Tindakan kecil pun berarti banyak.

Saturday, December 15, 2007

Tebar Qurban?

'Tebar Qurban 2007 bla...bla..bla....' begitulah bunyi tulisan di salah satu spanduk yang terpampang di pertigaan jalan Kemakmuran, jalan Pelita dan jalan ........... di kotaku. Spanduk dengan latar warna hijau dan tulisan hitam, berkibar gagah di seberang mesjid yang cukup besar di pojok jalan itu. Ya...ya...ya.... tanggal 20 Desember ini adalah hari Idul Adha. Hari raya Qurban, sebagian orang menyebutnya dan menurutku juga tidak salah. Betul-betul banyak yang di-qurban-kan pada hari itu, dan yang melakukannya ria bahagia. (Aku menangis dalam hati membaca spanduk itu, bayangkan : Tebar Qurban?).

Dalam pemahamanku kini aku sungguh tidak ingin lagi berqurban hewan seperti itu bahkan atas nama Tuhan. Aku sungguh hanya kasihan pada hewan-hewan yang diqurbankan, sementara manusianya sendiri tidak ada mengalami perubahan. Hanya menjadi semakin keras, kaku, alot. Bagaimana tidak? Setiap tahun paling tidak sekali menyaksikan 'penjagalan suci' seperti ini yang apapun nama pembungkusnya tetaplah pembunuhan. Itu belum dihitung dengan penjagalan setiap hari yang terjadi di setiap pasar, atau setiap rumah makan, restoran. Setiap rumah tangga. Dalam upaya manusia memenuhi kebutuhan naluriahnya - m a k a n! -. Manusia telah terlalu banyak membunuh.

Tapi dia hanya membunuh yang di luar dirinya. Dia lupa membunuh dirinya. Sehingga manusia dari masa ke masa semakin sombong, angkuh, arogan, beku, dan mati rasa. Seandainya qurban di sini dimaknai sebagai pembunuhan nafsu hewan dalam dirinya, maka manusia akan menjadi lebih baik, dari masa ke masa.

Nafsu hewan yang bagaimana?

Kejam, serakah, licik, tidak mau berbagi, hanya memikirkan perut dan kelamin, hei..hei..hei... bahkan setiap jenis hewan hanya memiliki satu sifat yang buruk saja. Misalnya serigala terkenal licik, babi kalau kawin lama, tikus suka mengorek-ngorek yang kotor, harimau kejam (kelihatannya) memangsa hewan lainnya dst dst. Dan hewan hanya kawin pada musimnya saja.
Manusia ? - dalam diri satu manusia segala macam sifat buruk tadi bisa ada. Kawin kapan saja, bisa dengan siapa saja, tak puas bila hanya satu saja, serakah, tamak, curang, loba, licik, kejam, sadis dll dll. Itulah hasil perkembangan evolusi manusia yang sangat menakjubkan, saudara-saudara. Padahal jika kita mempelajari perilaku hewan lebih jauh, kita akan menemukan bahwa mereka adalah makhluk beradab dan tunduk pada kehendak alam. Mereka sangat selaras dengan alam. Tak mampu merusak. Hanya bertindak sesuai garis yang ditentukan baginya. Sesungguhnya manusia kini lebih binatang daripada binatang.

Lalu ada yang marah padaku.

'Kau tidak paham', katanya, 'dengan ajaran agama'.
'Aku memang tidak paham', kataku. 'Karena ajaran itu tidak lagi bisa kuterima'.
Seharusnya diri manusia bertumbuh, berkembang dari masa ke masa. Ada aku membaca, evolusi fisik pada diri manusia mungkin sudah mencapai puncaknya. Kini energi yang ada seharusnya digunakan untuk evolusi bathinnya. Seharusnya.

Jadi jika kau bersikeras menterjemahkan agamamu secara lahiriah bahwa qurban adalah jagal hewan. Demikianlah pemahamanmu.

Aku memahaminya seperti yang kupahami. Dan inilah pemahamanku. Jagal-lah hewan yang bersemayam di dalam dirimu, dalam pikiranmu, dalam ucapanmu, dalam tindak-tandukmu!


Semoga semua makhluk berbahagia
Damailah diriku
Damai di bumi, damai di langit, damai di alam semesta

Monday, November 26, 2007

Tut Wuri Handayani

Judul di atas adalah penggalan dari kalimat panjang yang terkenal dari Ki Hajar Dewantoro, pendiri Taman Siswa, bapak pendidikan kita, yang baris terakhirnya juga menjadi bagian dari logo Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia : Ing Ngarso Sun Tuladha, Ing Madya Mangun Karso, Tut Wuri Handayani. Maknanya lebih kurang : di depan memberi teladan, ditengah membimbing (memotivasi, memberi semangat, menciptakan situasi kondusif) dan dibelakang mendorong (dukungan moral).

Kalimat itu menjadi rujukan saat bicara tentang konsep kepemimpinan yang baik, memberi tuntunan bagaimana seharusnya seorang pemimpin atau seorang guru (yang digugu dan ditiru) bertindak.

Ketiga kalimat itu berulang-ulang ditulis, dibahas, diingat kemudian dilupakan. As usual, idelisnya kita sampai di mulut saja. Begitu turun ke perut yang serba idealis tadi akan menguap ke atas dan masuk kembali ke kepala dalam sebentuk angan-angan tentang suatu hal yang ideal. Keluar lagi lewat mulut, begitu turun ke perut menguap lagi, dan seterusnya, dan seterusnya. (Do you catch me?)

Kalimat itu begitu sering diucapkan, dibaca, dibahas sampai si pendengar atau si pembaca lupa untuk memahami, belum sampai taraf menghayati, apalagi mengamalkan. Untuk sampai ke tahap paham saja sulit. Sebab umumnya begitu tahu, sudah puas. Berhenti, dan mengira dirinya sudah hebat.

Ing Ngarso Sun Tuladha
Di depan memberi teladan. Duh susahnya menjadi teladan. Menjadi teladan itu artinya si pemberi teladan harus senantiasa sadar, aware terhadap pikiran, perkataan dan tindakannya. Melakukan segala sesuatu secara benar. Memberi contoh yang baik. Itu sulit. Alamiahnya manusia itu selalu mondar-mandir di dua kutub. Mana bisa menjadi baik terus. Seharusnya juga tidak buruk terus.
Menyeimbangkan dua kutub itu adalah perjuangan seumur hidup. Lalu kalau untuk seimbang saja harus berjuang seumur hidup, sewaktu-waktu bisa tergelincir jatuh, bagaimana memberi teladan? Ya dengan menunjukkan usaha yang sungguh-sungguh untuk tetap seimbang itu tadi. Saat kita senantiasa sadar dan berusaha menyeimbangkan diri, tidak perlu repot-repot memikirkan apa teladan yang baik, sebenarnya kita sudah memberi teladan.

Ing Madya Mangun Karsa
Di tengah memotivasi, menggugah semangat, kemauan dan niat. Ini juga sulit. Bagaimana membuat situasi yang kondusif untuk orang lain agar bisa berkembang, menggugah semangat untuk terus meraih kemajuan itu sulit. Apalagi kita dihadapkan pada masalah internal diri kita sendiri dan masalah eksternal dengan lingkungan kita. Tidak bisa? Oh bisa. Yang diperlukan hanya niat baik untuk melakukannya. Asal paham lakonnya hidup, baris yang inipun pasti akan dilakukan orang-orang dengan senang hati. (Bagaimana lakonnya hidup? berdiamlah --maka kau akan tahu!).

Tut Wuri Handayani
Di belakang memberi dorongan moral. Nah ini dia. Katanya seorang pemimpin atau guru atau orang yang lebih pandai, lebih tahu-- saat membimbing orang lainnya harus bersikap sebagai among (ini bahasa Jawa, bukan Inggris!). Pengemong. Pengasuh. Jadi yang menjadi fokus adalah yang diasuh. Karena itu saat yang di asuh merasa lemah, merasa tidak mampu, pengemong akan maju memberi dorongan semangat, dukungan moral. Dengan kata-kata, dengan sikap perbuatan. Dengan hati yang penuh cinta. (iya penuh cinta, karena tanpa yang satu ini, tidak akan pernah bisa ada tindakan tut wuri handayani).

Jadi kesimpulannya apa yang coba disampaikan KH Dewantoro itu adalah : sadarlah pada pikiran, perkataan dan tindakan kita, pahami hidup dan kembangkan cinta kasih. Inilah pemahaman saya tentang Ing Ngarsa Sun tuladha, Ing Madya Mangun Karso, Tut Wuri Handayani.

Tetapi, masih ada tetapi. Saya bukan penutur asli bahasa Jawa. Saya tidak dibesarkan dalam tradisi Jawa. Saya tidak tinggal cukup lama di pulau Jawa. Jadi, bisa jadi pemahaman saya tentang kalimat KH Dewantoro ini mengalami distorsi makna karena ketidaktahuan saya. Karena dari pengalaman saya, setiap kata bahkan huruf, dalam bahasa Jawa selalu punya makna. Tidak ada kata yang sia-sia. Seperti halnya hidup, tidak ada hidup yang sia-sia. Tidak ada kejadian yang sia-sia. Semua bermakna. Pandaikah kita merangkai makna dan mengambil pelajaran darinya?

That's why we live.

one that could implement this into action in daily life, he must has a big heart.

Samarinda, 26 Nov 2007

Saturday, September 29, 2007

Give and Give and Give Things

Beberapa hari terakhir ini aku dilanda kebimbangan untuk memutuskan apakah aku akan masuk menjadi member Asian Brain IMC yang dikomandoi Anne Ahira -internet marketer- terkenal dari Indonesia itu atau tidak. Aku sudah berlangganan news dari mereka tapi sudah hampir 2 minggu ini tidak kunjung dapat memutuskan apakah akan bergabung atau tidak.

Beberapa waktu yang lalu aku juga mendapat kiriman paket 'motivation course' atau somekind like that lah... dari seorang teman. Aku baca. Dan .......... there's nothing new for me.
I knew it before. I understood and try to do it day by day all this time. But that's not the problem.

The problem is : I feel funny about those 'motivation things'.
Weird.
I feel like a donkey.
Don't laugh at me.
I mean it.

I am not sure about how I feel or how to tell you about this. Saat aku menerima email yang isinya kalimat-kalimat untuk memotivasi itu, aku lantas merasa dungu. Aku merasa seperti salesman jalanan yang harus diberi semangat dengan berteriak lantang setiap pagi dalam meeting harian sebelum berkeliling menawarkan barang. Aku merasa malu -mungkin- karenanya.

Pertanyaannya adalah : Mengapa malu? Bukankah setiap dari kita memang harus pandai menjual? (itu inti bisnis kan? bisnis apa saja. kau bisa menjual barang, menjual jasa, menjual ide, menjual visi, menjual diri ..ops, yah pokoknya menjual, apa saja)

No sales, no action, no money, no profit, no-thing.

Aku berhari-hari merenungkan hal ini. Mungkin sampai hari ini aku belum menemukan jawabnya. Aku hanya meraba-raba jawaban. Seperti ini: saat kita mulai belajar mengenal diri kita sendiri, saat itu kita belajar tentang dunia di sekitar kita. Satu persatu, sedikit demi sedikit kita melihat dengan lebih jelas, memahami dengan lebih baik segala sesuatu. Saat itu tiba, teori motivasi itu menjadi lelucon yang lucu sekali. Karena pada saat kita memahami diri sendiri, maka hal-hal yang disebutkan dalam teori motivasi itu terlampaui. Bila masih ngotot memposisikan diri di sana, akan ada perasaan malu yang terbit di sanubari.

Teori tentang positive thinking dan teori motivasi itu mirip. Aku masih bisa membaca dengan tenang apabila ada orang menulis tentang postive thinking. Tetapi membaca tentang motivasi, rasanya jadi lucu sekali. Gambarannya itu seperti keledai yang diumpan dengan buah yang digantung di depannya. Dia akan dilecut untuk jalan, dengan harapan dapat menggapai umpan tadi yang tentu saja tak akan pernah didapatnya, karena seiring dengan langkahnya, umpannya akan bergerak menjauh juga. Very funny! dan menyedihkan juga.

Tapi apakah teori motivasi dan positive thinking itu buruk. Tidak. Tentu saja tidak. Ada orang yang memang membutuhkannya. Masih banyak orang yang membutuhkannya.

Aku tidak berani berkata lantang bahwa aku tidak membutuhkannya. Pada kenyataannya aku tetap membutuhkan motivasi dan berpikir positip untuk melakukan atau tidak melakukan sesuatu. Dan, sampai saat ini pun uang mungkin adalah motivasi yang paling kuat. Lalu kenapa ada penolakan halus yang kurasakan?

Aku belum paham. Dan aku masih setia membaca news letter dari Asian Brain. Anne Ahira orang yang hebat. Dan dia mau berbagi, itu juga hebat. Hal yang langka di Indonesia. Aku bersyukur Indonesia memiliki orang seperti dia. Hanya saja, sepertinya aku tidak bisa ikut dalam rombongannya. Tidak saat ini.

Tapi Anda yang membaca tulisan ini, boleh tuh masuk ke Asian Brain. Berkunjunglah dan lihat, apakah Anda tertarik untuk ikut dan meraih keberhasilan di sana. Dan berbagilah setelah itu. Not share the money you get;), but share what you've experienced, share about how you doin' it, share the 'tip', share the chance.

I remember something right now. Maybe I'm suck with this "take and give thing" but naturally that's how it goes.
Maybe on my secret mind, deep down inside, I think, why not "give, and give, and give only"
May be......

Wednesday, August 22, 2007

Agustusan - Bende Mataram!

Samarinda, 22 Agustus 2007

"Tahun ini tidak diadakan lomba-lomba dalam menyambut Hari Kemerdekaan, jadi tidak akan ada pula sumbangan dan lain sebagainya. Harap menjadi perhatian warga RT ..." begitulah bunyi selebaran yang kudapat dari Pak RT-ku.
Di komplek perumahan tempat kutinggal perayaan 17 Agustus berlalu seperti hari-hari biasa lainnya. Nothing special.
Sambil tercenung membaca selebaran itu aku sendiri bertanya-tanya dalam hati, apakah memang masih tersisa rasa nasionalisme di dada setiap warga negara Indonesia saat ini? Atau rasa itu sudah hilang lebur dalam kesulitan perjuangan hidup sehari-hari. Sehingga kemerdekaan maknanya tereduksi menjadi sekadar lomba bola volley atau panjat pinang dan balap karung saja.
Aku merasa menemukan jawabannya seminggu kemudian.
Kemarin suamiku pagi-pagi sekali memutar lagu. Awalnya hanya terdengar musik orkestra yang indah. Setelah masuk intro baru aku tahu kalau itu lagu Indonesia Pusaka. Sambil melakukan postur yoga seperti biasa kulakukan setiap pagi aku mendengarkan lagu itu. Dan lagu berikutnya dan lagu berikutnya. Ada Maju Tak Gentar, Bangun Pemudi Pemuda, Rayuan Pulau Kelapa, Syukur, Bagimu Negeri, Berkibarlah Benderaku, Mars Pancasila, Indonesia Raya, Hari Merdeka. Total ada 10 lagu.
Dadaku terasa bergemuruh, mataku panas berkaca-kaca. Ah..ah... aku rindu tanah airku. Agak aneh memang. Aku belum pernah bepergian jauh meninggalkan tanah airku -phisically- tapi aku sudah rindu padanya. Pertanda apa ini?
Dan aku tambah terharu sewaktu kutanya suamiku dari mana dia dapat lagu-lagu itu? Jawabannya : dari FSU - Florida State University. Aku bengong! Aku terkejut! Ndak salah nih........?
Aku tidak mencari tahu lebih jauh apakah itu hanya direkam di sana, atau dibuat mahasiswa Indonesia yang ada di sana, atau bagaimanalah ceritanya. Aku hanya heran dan merasa miris.
Aku berpikir tidak adakah komposer kita yang tergugah untuk mengolah dan meng-compose lagu-lagu (wajib) itu menjadi lagu yang indah dan merdu di dengar tidak hanya untuk diperdengarkan pada bulan Agustus saja (seperti halnya rekaman yang kudapat ini -penyanyinya suaranya indah dan musiknya bagus-). Tidak adakah stasiun TV kita yang tergerak untuk membuat acara yang dapat menggugah rasa kebangsaan dan kebanggaan seseorang terhadap negeranya daripada membuat sinetron konyol yang sama sekali tidak lucu dan tidak mendidik itu (tapi menghasilkan banyak uang sih.....).
Aku memutar lagu yang sama di komputerku di kantor keesokan harinya. Reaksi yang kudapat juga membuatku terharu. Teman-temanku ternyata juga rindu mendengarkan lagu-lagu itu. Mereka malah membawa cerita lain lagi. Bagaimana putra-putrinya yang bersekolah di SD, SMP dan SMA malah ada yang tidak hafal dengan lagu-lagu ini, boro-boro untuk menjiwai, kenal aja udah syukur. Nah lho....!
Kelihatannya pendidikan bela bangsa yang selama ini masuk kurikulum pengajaran selama bertahun-tahun telah gagal total. Sekarang yang tumbuh subur di sekolah-sekolah adalah sikap fanatisme yang diajarkan kepada murid melalui pendidikan agama. Budi pekerti direduksi menjadi berpakaian seperti salah satu ajaran agama (mayoritas tentu......!) membangun banyak tempat ibadah (agama mayoritas tentu....) dan merasa sudah berbuat baik dan sudah punya kavling di surga karena hal itu. Padahal fanatisme yang sama juga yang akan menggoyang rasa kebangsaan dan kebanggaan bernegara karena arahnya sudah jelas bo..... bahkan di beberapa email yang kuterima ada berita mengenai upaya yang dilakukan pihak-pihak yang ingin mendirikan negara islam indonesia.
Sedih...sedih....
Apa yang dapat kulakukan? Kenapa Presiden SBY diam saja? Takut kehilangan kekuasaan? Takut dicap tidak beriman? Atau yang lebih cilaka lagi nih orang-orang yang punya akses pada kekuasaan, yang mengatur orang banyak, pada ndak sadar ya... sudah diperalat pihak asing agar mereka dapat menguasai Indonesia, merampas, menjarah dan memperkosa Ibu Pertiwi. Dengan dalih agama sih..... makanya pada takut dibilang tidak beriman, kafir sesat tuh.....! Apalgi kalau diancam bakal masuk neraka..... wah...wah....
Jadinya malah pada menjelma jadi anak durhaka, bilang ibu pertiwinya tidak berbudaya, tidak berpakaian yang pantas sehingga harus dikerudungi dari atas sampai bawah. Mengira mereka yang paling bijaksana dan beruntung menista budaya nenek moyang yang adi luhung. Aduh Bunda..... semoga Kau memberkati mereka....
Dan karena lama tidak menulis, tulisanku jadi melantur.....kesana kemari.....pikiranku berseliweran menaburkan kepedihan hati.....memahat kata dengan keras melawan kemalasan diri untuk bersuara dan membela ibu pertiwi. Terlau banyak yang ingin disampaikan hingga tanganku tak kuasa untuk mengikuti.
Cukup sampai disini. Sembah sujudku untuk Ibu Pertiwi.

Bende Mataram !

Friday, May 04, 2007

Life Summary

Prolog
Sudah lama sekali sejak terakhir kali aku menulis 3 bulan yang lalu. Aneh rasanya memulai menulis lagi. Sepertinya terlalu banyak hal yang harus kuendapkan dulu dengan sungguh-sungguh sebelum bisa kutuangkan dengan baik. Sulitnya, aku tidak tahu persis apa yang baru.
Meskipun kenyataannya banyak sekali kejadian yang telah kulewati. Tetapi sepertinya lewat begitu saja. Kalaupun ada yang bisa dicatat mungkin adalah kesadaran bahwa selama ini aku sangat tidak percaya diri.
Kepercayaan diriku menguap begitu saja. Sesaat ada, sesaat tiada. Aku memerlukan disiplin diri yang kuat untuk terus berlatih agar kepercayaan diriku tetap terjaga. Aneh!
Bagian 1
Aku merasa diriku jauh dari lingkunganku karena perbedaan pola pikirku. Tentu saja bila hal itu menyangkut pekerjaan atau hal-hal rutin lainnya semua bisa dikerjakan seperti biasanya. Tetapi segala hal yang menyangkut hubungan sosial jadi terasa aneh karena aku menemukan bahwa nilai-nilai yang kuanut ‘terasa’ berbeda dengan lingkunganku berada. Aku juga seringkali merasa SAAT INI lebih mudah melihat mana orang yang tidak percaya diri (artinya orang itu sangat tidak percaya diri, karena aku sendiri tidak pd-an), mana yang sombong, mana yang hanya bisa berbual (kelompok orang yang menyebalkan), mana yang sok berkuasa tapi sejatinya tidak tahu apa-apa (kelompok yang paling menyebalkan), mana orang yang ‘berisi’, orang lugu, orang sederhana, orang awam, dll, dsb.
Seperti biasa, aku memperhatikan, mempelajari, memahami dan …..ah aku belum cerah!
Bagian 2
Aku berkeliling mencari sekolah untuk anakku yang kedua- Chitta. Aku ingin dia masuk TK Budi Bhakti. Yang punya yayasan Budha. Aku senang dengan kurikulumnya (di sana tidak diajarkan agama! tetapi diajarkan budi pekerti dan kasih sesama ), senang dengan kelasnya, senang dengan lingkungannya, senang dengan guru-gurunya, ………..tetapi rupanya mereka semua tidak senang dengan anakku.
Mereka keberatan menerima Chitta. Alasannya tidak jelas bagiku, jawabannya berputar-putar, belakangan malah menyuruhku ke psikolog untuk tes mencari kelebihan dan kekurangan anakku (yang kemudian aku tahu tempat psikolog itu praktek lebih banyak menangani kasus anak autis).
Aku tersentak!
Stress dan
Depressi
Untuk beberapa jam lamanya.
(Kalau depressi jangan lama-lama;)
Kemudian aku bergerak cepat mencari semua informasi yang bisa kudapat tentang autis dengan seluruh spektrumnya, PDD NOS, Speech Delay dan beberapa istilah lain yang sulit kuingat. Membaca bahan-bahannya, memasuki semua ruang diskusi di internet yang membahas/berkaitan dengan hal itu.
Dan setelah 7 hari mempelajari, menelaah, membandingkan, mengukur, mengingat-ingat, aku dengan pasti bisa mengatakan bahwa anakku bukanlah seorang anak autis (seperti dugaan guru-guru di TK Budi Bhakti, berdasarkan gambaran tentang perilaku Chitta yang kuberikan pada mereka juga. Dasar akunya dogol!)
Chitta mengalami keterlambatan bicara, ya. Tetapi bukan autis!
Tetapi tidak ada kejadian kebetulan bukan? Tidak ada yang terjadi tanpa suatu maksud. Jadi sampai hari ini aku masih bertanya-tanya apa gerangan yang menyebabkan Chitta tidak bisa masuk ke sekolah yang aku idam-idamkan sejak lama untuknya. Atau Chitta memang tidak ingin masuk sana. Kenapa?
Belakangan aku dan suamiku –setelah mencari beberapa hari- memutuskan Chitta masuk TK Fransiskus Asisi punya yayasan Katolik.
Aneh..aneh….aneh….. Karena sejak lama aku berusaha menghindari kontak dengan segala macam yayasan yang bernaung di bawah 2 agama besar ini, tapi kok ya aku harus masuk ke salah satunya.
Sampai hari ini aku belum tahu maksudnya.

Bagian 3
Aku selalu merasa ada yang kurang dengan apa yang kupelajari selama ini. Aku selalu merasa ada yang kurang dengan Islam yang kupelajari selama ini. Aku berusaha mencari tahu KEKURANGAN itu. Tapi hingga hari ini aku belum mendapat berkah untuk menemukan sumber yang terpercaya. Ada teman diskusi dan sumber informasi yang cukup mengasyikan sebenarnya, tapi terhalang oleh perbedaan cara berkomunikasi, kesulitan berbahasa dan perbedaan latar belakang sehingga apa yang ingin kutahu tidak bisa ditangkap secara tepat olehnya sehingga jawaban yang diberikan juga menjadi tidak tepat.
Tanya kenapa?
Mungkin belum waktunya.
Atau mungkin bukan dari sumber yang ini aku harus mendapatkannya.
Aku akan menunggu.
(beberapa hari yang lalu aku mendapat email dari seorang teman yang isinya menceritakan bahwa Nabi Muhammad itu tidaklah buta huruf seperti yang selama ini diketahui dan diajarkan. Aku tertawa terbahak-bahak….. yah…baru ini aku mendengar lagi ada penjelasan rasional tentang hal itu. Meniru ucapan temanku…. Ya..iyalah….. Rasanya konyol memang kalau Nabi adalah seorang yang buta huruf. Katakanlah memang demikian, masih tidak masuk diakalku kalau Nabi ini sampai akhir hayatnya membiarkan dirinya buta huruf. He…he…he……manusia-manusia ini memang konyol….)
Bagian 4
Anakku yang besar Pragyaa, tahun ini masuk SMA. Aku bingung juga. Sekolah yang mana yang akan dia masuki. Kalau ingat gayanya yang slow motion, apa adanya, tidak punya keinginan apa-apa, trus gimana?
Aku tanya dia, dia sebut satu sekolah. Bukan yang terbaik, tapi termasuk yang banyak diminati. Rasa-rasanya sekali ini keinginannya akan kuikuti. Karena aku kasihan padanya. Selama dia SMP memang dia berhasil masuk SMP terbaik, masuk di kelas bilingual (angkatan dia adalah yang pertama untuk kelas bilingual dan SMPnya adalah satu-satunya SMP di Kaltim yang membuka kelas itu, katanya sih program ASEAN atau gimana gitu!) dengan prestasi sedang-sedang saja, kadang malah nyerempet rangking terbawah di kelasnya. Tapi OK-lah….
Masalahnya dia tidak punya teman selama SMP ini. Olala…. Aku tidak ingin dia mengulang kesengsaraan tidak punya teman 3 tahun lagi hanya karena mamanya ingin dia masuk sekolah terbaik. Tidak-tidak.
Entahlah apa yang salah pada Pragyaa hingga dia tidak punya teman dekat di SMP ini yang sekelas dengannya. Kalau ada yang berteman dengannya kayaknya hanya karena terpaksa deh, atau karena mereka memang sedang memerlukan dia. Pokoknya kalau nggak kepepet kayaknya nggak ada yang mau berurusan dengannya.
Repotnya Pragyaa ini cuek sekali. Jadi dia tidak repot juga dengan keadaan itu. Nggak ditemenin ya udahlah.
Oh God!.
Karena itu aku berharap keputusanku membebaskan dia ingin sekolah dimana adalah keputusan yang baik untuknya. Karena kalau dia kusuruh masuk SMA terbaik lagi di kota ini, ada kemungkinan dia akan diterima tetapi dia akan bertemu dengan orang-orang yang sama lagi, temannya yang itu-itu juga. Karena hampir separuh kelasnya telah diterima di SMA terbaik itu tanpa tes. (Pragyaa tidak diterima tanpa tes karena gagal di nilai rata-ratanya yang tidak rata;-) Dia hanya akan pindah kelas dan pindah sekolah saja. Kebetulan pula sekolahnya bertetangga. Betul-betul cuma geser sedikit kan?
Tidak! Kurasa kali ini aku ingin dia mendapat pengalaman yang berbeda. Jadi aku berharap keputusanku ini tidak salah.
Semoga!
Samarinda, 3 Mei 2007

Thursday, January 25, 2007

Bedanya Tahu dan Paham

Aku baru menonton film Sixth Sense kemaren sore di saluran HBO. Film dengan alur bertutur yang lambat dan meloncat-loncat tapi membangkitkan rasa ingin tahu. Jadi aku bertahan menonton sampai habis. Meskipun tidak tepat juga dikatakan begitu karena aku menontonnya dari pertengahan saja, tidak dari awal. Rasa-rasanya aku harus menonton film ini dari awal sekali lagi.

Dari tontonannya yang sepotong itu aku menyimpulkan bahwa film ini menceritakan tentang seorang anak yang bisa melihat hantu. Menariknya film ini tidak lantas menjadi film hantu yang menyeramkan (seperti biasanya film Indonesia..:), sebaliknya film ini malah menjelaskan tentang hantu itu sendiri.

Aku telah ‘tahu’ sejak……. katakanlah dua tahun yang lalu, bahwa saat kita meninggal apabila kita meninggal dalam keadaan tidak sadar atau kita tidak ikhlas, maka itu akan menimbulkan keterikatan dengan dunia ini, dan menyebabkan kita terkatung-katung di alam sebelah. Ya lantas orang bilang hantu tadi. Tidak bisa melanjutkan perjalanan. Begitu juga dengan yang ditinggalkan. Bila mereka ada seorang saja yang tidak ikhlas melepas kepergian orang yang dikasihinya akan membuat yang meninggal tadi terikat dengan dunia. Jadi baik yang meninggal maupun yang ditinggalkan kedua-duanya harus ikhlas agar perjalanan yang meninggal lancar. Inilah juga yang diceritakan oleh film Sixth Sense ini. Aku seperti mendapat konfirmasi. Sekali lagi.

Tadi pagi, sehabis yoga seperti biasa. Aku rileksasi, savasana. Dan seperti biasanya juga saat rileksasi seperti inilah aku mendapat ‘pencerahan-pencerahan kecil’. Tadi pagi pencerahanku tentang hantu tadi. Bukan hal yang baru. Pemahamannya tetap sama. Bedanya ya di ‘paham’ itu tadi. Dua tahun yang lalu aku ‘tahu’ tentang hal itu. Tahu dari pengetahuan, dari bacaan, dari cerita orang. Sekarang aku ‘paham’. Dari kesadaranku sendiri. Rasanya memang lega. Reaksi yang keluar cuma, ooohh….. lalu manggut-manggut sendiri. Begitu saja memang rupanya kalau orang paham itu.

Aku cerita pada suamiku. Reaksinya juga cuma, “Naah…sudah pahamkan”. Jawaban standarnya yang kadang-kadang menyebalkan, tapi memang mengandung kebenaran.

Label

Kali ini aku ingin menulis tentang hobi kita memberi label pada segala sesuatu. Pada segala sesuatu dari kita, dari segala entity di sekeliling kita. Seperti makanan, hewan, tumbuhan. Benda yang tidak bergerak seperti batu, gunung, sungai. Juga benda yang tidak dapat dilihat seperti amuba, bakteri, virus, sel. Dan seterusnya dan sebagainya.
Kita juga tidak lupa memberi label pada diri kita sendiri. Orang kaya, orang miskin, artis, peneliti, pemerhati, professor, tukang bakso, tukang kayu. Pokoknya semua harus diberi label. Semua harus ada namanya. Ada sebutannya.
Bahkan tidak puas dengan sebutan yang luas, harus ada sebutan yang khusus, yang spesial, istimewa. Seperti profesi penulis akan ada prosais, novelis, cerpenis, penulis cerita anak, penulis essai, pemerhati bla bla bla. Bagaimana kalau dia bisa menulis segala macam itu semua? Maka tetap harus ada label baru : penulis serba bisa.
Profesi yang lain, misal dokter. Ada dokter mata, dokter kandungan, dokter syaraf, dokter jantung, dokter anak, dokter kulit, dokter bla bla bla. Bagaimana dengan dokter yang tahu semuanya? Labelnya adalah dokter umum.
Tetap harus ada label. Dan ikutannya harus ada ranking. Mana yang lebih hebat, lebih prestisius, atau sekedar lebih indah kedengaran di telinga. Sebenarnya kalau mau jujur kita akan berkata bahwa yang hebat itu ya yang bisa semua. Untuk kedua contoh di atas yang hebat adalah penulis serba bisa dan dokter umum.
Tetapi kenyataannya yang terjadi adalah anggapan yang mengatakan bahwa kalau serba umum maka pengetahuannya tentang hal itu sedikit, alias yang umum-umum juga. Jadi kalau mau yang lebih ahli, yang bisa membahas lebih mendalam, kita harus merujuk kepada para spesialis tadi.
Pertanyaannya sekarang benarkah demikian?
Jawabannya bisa ya bisa tidak. Bisa ya dan tidak.
Jawaban Ya
Ya umumnya seperti itu. Karena begitu kita mendalami sesuatu secara khusus, secara intens, tentunya pengetahuan kita tentang hal itu bertambah. Ada memang hal-hal yang harus dikuasai secara khusus oleh orang-orang dan mereka menjadi sangat ahli disana. Seperti umumnya peneliti, ahli komputer, atau dalam contoh di atas adalah dokter. Umumnya apabila disana dituntut keahlian yang bersifat teknis.
Jawaban Tidak
Tidak, karena kemampuan manusia tidak terbatas. Selama dia mau belajar dia bisa menjadi apa saja. Sekarang hal itu sudah mulai banyak ditemui. Misalnya dokter gigi yang penyanyi, artis film yang penulis, wartawan yang juga artis, agamawan yang penulis. Apakah mereka lantas tidak bisa memberi analisa yang mendalam, atau kurang penghayatan pada masing-masing jenis pekerjaan itu? Tidak, tapi perhatikan biasanya satu jenis adalah pekerjaan teknis, yang satu pekerjaan seni. Yang satu otak kanan, yang satu otak kiri.
Jawaban Ya dan Tidak
Ya dan Tidak. Untuk satu orang jawabannya bisa jadi ya. Tapi untuk orang lain bisa juga tidak. Hal ini sungguh relatif. Karena setiap dari manusia adalah unik. Jadi kedua jawaban bisa diterima. Sulitnya kita tidak biasa menerima banyak jawaban yang benar untuk banyak kemungkinan. Kita terbiasa menerima hanya satu jawaban benar. Di situlah masalahnya.

Sebenarnya siapa yang dapat memberi jawaban pasti di dunia ini. Apalagi dalam kondisi masyarakat yang nilai-nilainya selalu berubah sesuai jaman, sesuai kemajuan/kemunduran teknologi, yang pendapatnya bisa disetir (baca:dibentuk) oleh media massa. Apa yang benar dan berlaku pada sepuluh tahun yang lalu, bisa jadi malah sebaliknya di jaman sepuluh tahun kemudian. Dulu tabu, sekarang terbuka, dulu dilarang sekarang boleh. Dulu rukun sekarang ribut. Dulu dan sekarang memang berbeda. Bahkan untuk waktu yang singkatpun.
Dan kesukaan memberi label adalah salah satu nilai-nilai masyarakat itu. Kita perlu memberi identitas diri. Untuk menunjukkan bahwa kita adalah sesuatu, bahwa kita ada. Karena kita ada maka kita akan di dengar. Supaya terdengar sampai jauh maka label kita harus yang hebat. Makin hebat label, makin dipercaya orang, makin diakui bahwa kita ada.
Akibatnya banyak hal yang kita lakukan sebetulnya adalah hal yang lucu dan kadang-kadang tidak etis, kadang melanggar hukum. Tapi demi label, kita berjuang untuk mendapatkannya. Pernah dengar tentang praktek pembelian gelar sarjana. Nah itu adalah salah satu contohnya. Apakah mereka yang melakukannya salah? Itu relatif lagi jawabannya. Mereka hanya berusaha mendapatkan identitas tadi. Mungkin mereka perlu embel-embel kesarjanaan agar mereka didengar, agar orang percaya mereka memang bonafide.
Mungkin bisa dikatakan kita ini krisis identitas. Kita tidak puas menjadi diri kita sendiri saja. Tanpa embel-embel dibelakangnya. Kita tidak puas mejadi Polan saja atau Anu saja. Kita harus menjadi Prof Polan, atau Anu sang selebrity. Atau Polan si kaum urban, atau Anu sang peneliti. Kita merasa harus mengidentifikasikan diri kita pada sesuatu.
Tetapi tindakan dan sikap semacam itu yang lahir dari masing-masing pribadi adalah juga nilai-nilai umum yang berlaku dalam masyarakat. Karena setiap individu mengikuti selera masyarakat, didukung oleh media massa maka nilai-nilai itu menjadi benar dan berlaku.
Seandainya ada orang yang biasa-biasa saja, katakanlah penjual es cendol di pinggir jalan, berbicara tentang sebab kemelut negeri ini, dengan bahasanya yang sederhana, siapa yang akan mendengarkan? Bahkan jika teori dia tidak salah. Paling-paling yang mendengarkan adalah para pembelinya sendiri. Yang mau tidak mau harus mendengarkan sampai pembeliannya selesai dilayani. Atau teman-teman sesama penjual es cendol yang mendengarkan sambil manggut-manggut dan tersenyum-senyum geli melihat seorang penjual es cendol mencemaskan nasib negeri. Mungkin sekali oleh sebagian teman dan pembelinya dia akan dianggap aneh berbicara seperti itu. Syukur-syukur tidak dianggap gila.
Ceritanya akan lain kalau yang bicara itu seorang pengamat ekonomi. Mungkin analisanya sama, tetapi yang disampaikan sang pengamat ekonomi akan menghiasi head line koran utama, dan dikutip seluruh media massa. Bahasanya canggih, orang awam tidak mengerti. Tapi justru disitulah letak kehebatannya, ke-ekslusifannya. Sekalipun sebenarnya yang disampaikannya intinya sama saja dengan yang disampaikan si penjual es cendol.
Intinya kita harus menjadi “sesuatu” dahulu agar kita didengar orang lain. Dan untuk menjadi “sesuatu” kita harus memiliki label yang menyertai kita. Segala kesibukan dan upaya kita dalam kehidupan sehari-hari semua mengarah kepada pencarian label tadi. Pencarian identitas diri. Identitas yang spesifik. Lalu apa kesimpulan dari tulisan ini? Sepertinya tidak ada. Hanya pemaparan kenyataan yang ada. Begitulah kondisi kita. Sakit. Keberadaan kita sebagai manusia tidak cukup. Kita harus manusia yang sudah mencapai ini dan itu. Harga manusia sudah jauh dibawah imaginary value yang kita ciptakan sendiri. Kita berada dalam matriks ciptaan kita sendiri. Dan kita juga yang tersiksa di sana. Menunggu Neo sang pembebas datang. Atau Neo itu adalah kita sendiri, yang belum bisa memilih akan mengambil pil merah atau pil biru di hadapannya?(***)

Saturday, November 25, 2006

SDA & Lingkungan, Sebuah Ajakan

Semester ini aku mendapat kuliah Sumber Daya Alam dan Lingkungan. Suer…. 10 atau 15 tahun yang lalu mata kuliah ini pasti sangat tidak menarik bagiku. Tapi sekarang lain lagi. Aku sangat berminat. Tertarik. Dan kagum mendengar penjelasan dosenku tentang tanah, air, hutan. Tentang bermacam-macam sumber daya alam dengan segala sifat yang melekat padanya, dengan segala penggolongan menurut apa dan siapa yang menelitinya. Aku kagum mengetahui bahwa manusia sekarang ini telah begitu pintar sehingga dapat mempelajari susunan tanah, sifat tanah, jenis hutan, perilaku air, and so on and so forth tentang segala macam ilmu tentang lingkungan, tentang sumber daya alam yang semua sudah, masih dan akan terus dipelajari oleh manusia.

Aku juga menjadi tahu bahwa semua pengetahuan itu telah dicoba terapkan dengan menyusun peraturan, membuat strategi dan rencana yang baik sekali (sungguh kukatakan : BAIK SEKALI!) untuk mengatur pemanfaatan dan pemberdayaan lingkungan.

Yang menjadi pertanyaan sekarang adalah, mengapa begitu banyak kerusakan lingkungan yang terjadi di sekitar kita. Padahal sejak dulu sudah ada lembaga yang khusus menangani hal itu, di bawah kementerian lingkungan hidup.

Kita ingat bahwa untuk setiap pembangunan (baca: eksploitasi hasil alam, perumahan, pembukaan lahan, pembangunan industri) dalam skala yang mengakibatkan perubahan landscape itu harus memenuhi persyaratan AMDAL. Dengan adanya persyaratan AMDAL sebelum pembangunan dimulai itu masyarakat luas sebenarnya mempunyai suara untuk menyetujui atau menggugurkan suatu usulan pembangunan. Belum lagi kalau menyebut begitu banyak lembaga swadaya masyarakat yang bergerak di bidang pelestarian lingkungan yang berperan sebagai kontrol dalam pemanfaatan sumber daya alam.

Tanggung Jawab Bersama

Mungkin jawabannya harus kita runut dengan seksama, satu persatu, step by step, case by case. Siapa yang bertanggung jawab : semua elemen, baik pemerintah (sebagai pengatur & pengelola) industri (pihak pemrakarsa, pembangun) dan masyarakat (sebagai konsumen dan yang terkena dampak lingkungan). Apakah semua elemen ini sudah menjalankan fungsinya? Jawabannya : TIDAK.

Pemerintah sering (atau malah selalu?) kongkalikong dengan pemrakarsa (baca : pengusaha) sehingga bisa jadi kita mendengar AMDAL yang disusulkan belakangan setelah pembangunan selesai, atau data AMDAL yang telah dimanipulasi. Karena hampir dapat dipastikan, sulit sekali bagi pengusaha untuk kucing-kucingan melanggar peraturan kalau tidak main mata dengan pemerintah sebagai pengawas pemanfaatan lingkungan.

Bagaimana dengan masyarakat ? Biasanya masyarakat itu tidak peduli selama dia belum merasa terganggu dengan suatu kegiatan pembangunan. Ada juga beberapa yang ribut, tapi hampir selalu tidak mendapat perhatian. Lebih banyak lagi yang protes setelah terjadi kerusakan parah dan membahayakan. Tapi pada akhirnya tetap saja keluhannya tidak mendapat respon yang positif baik dari pihak pengusaha maupun pemerintah. Intinya masyarakat selalu dikalahkan oleh kepentingan ekonomi dalam hal ini. Jadi dimulai dari sikap tidak peduli masyarakat – menjadi keluhan massal yang selalu tidak mendapat tanggapan – pada akhirnya lahir sikap apatis terhadap situasi di sekelilingnya.

Sebenarnya hal ini sangat menyedihkan. Tetapi tinggalkan dulu soal itu. Sekarang apa tindakan yang harus diambil ?

Jangka pendek tentu saja jawaban yang pasti adalah pemerintah sebagai pengontrol dan pengawas harus introspeksi diri agar menjalankan fungsinya sesuai yang seharusnya. (Tetapi bagaimana ya…..umumnya orang-orang yang duduk di bagian ini di negara kita adalah orang-orang yang berjiwa pedagang dan opportunist. Semua tindakan berdasarkan perhitungan ekonomis. Untuk kepentingan pribadi, atau paling banter untuk golongannya sendiri. Jadi sulit sekali mengharapkan perubahan, walaupun kita tidak boleh berputus harapan).

Tindakan jangka panjang, nah ini dia PR bagi kita semua seluruh elemen bangsa ini. Yaitu bagaimana meningkatkan kesadaran bahwa kita semua di timur di barat, di desa di kota, di gunung, di lembah adalah satu. Saling terkait dan bergantung dalam satu siklus kehidupan. Bahkan saling terkait antar kehidupan sebelum ini—apa yang dilakukan oleh nenek moyang kita—kehidupan kita sekarang, dan kehidupan yang akan datang—generasi anak cucu kita. Kalau semua orang memahami ini, sebenarnya konyol sekali kalau masih ada yang ngotot mencari keuntungan sesaat. Karena pada waktunya nanti kekonyolannya itu pasti akan melahirkan kesulitan bagi dirinya sendiri.

Tapi memang sekarang ini pepatah, “Siapa yang menabur dia yang menuai” itu sudah tidak dianggap lagi. Dianggap hanya ungkapan indah peninggalan orang dulu. Tidak banyak lagi yang berusaha memahami makna dan kebenarannya. Karena itu banyak sekali ditemui orang-orang konyol sekarang ini yang menganggap kerusakan lingkungan yang berujung pada bencana-bencana yang terjadi di sekitar kita itu adalah cobaan, ujian dari Tuhan. Itu hanya menunjukkan bahwa kebanyakan orang sungguh tidak paham akan siklus kehidupan yang sedemikian alami.

Jadi bagaimana sekarang, apa yang harus kita lakukan? Kembali ke rencana jangka pendek, ya gedorin orang-orang pemerintah terutama para pengambil keputusan agar melek mata pada apa yang sedang terjadi dan segera sadar dan tegas untuk mengambil tindakan koreksi. Lalu gedorin juga pihak pemrakarsa agar tidak hanya memikirkan keuntungan jangka pendek, uang, uang, dan uang saja. (Mungkin bisa dengan cara di suruh retreat ke alam terbuka dengan program khusus mempelajari dan belajar mencintai alam gitchu kali ye…..pokoknya diwajibkan ….he..he..he…..;)

Bagaimana dengan masyarakat? Oh kalau masyarakat itu proyek (yang ini proyek minus uang) jangka panjang. Karena sebenarnya menyadarkan masyarakat lebih gampang karena masyarakat yang paling terkena dampak, yang paling menderita kalau ada kerusakan lingkungan. Masyarakat ada di piramida paling bawah, jadi paling mudah diarahkan. Tetapi bukan berarti mudah dalam pelaksanaan. Karena harus dimulai sejak dini. Dini sekali sejak masih anak-anak.

Anak-anak yang masih polos, tanpa prasangka, tanpa tendensi apapun pada siapapun yang dihadapinya, kepada mereka itulah kita harus menanamkan pemahaman yang benar tentang peran PENTING lingkungan sebagai tempat kita tinggal, tumbuh dan berkembang. Kapan kita bisa mengambil manfaat, kapan kita harus berhenti, bagaimana cara beradab memperlakukan alam. Jangan jadi manusia tak tahu diri.

Pada masa ini harus sudah diajarkan pemahaman yang benar tentang keterkaitan antara segala sesuatu di alam ini. Ada keterkaitan dan ketergantungan yang begitu jelas di mata, ada yang tidak jelas hingga sulit membayangkannya.

(Tetapi bagaimana ya….. sekarang anak-anak makin jauh dari alam. Turun dari rumah gedongan, masuk gedong sekolah. Lepas dari sekolah masuk gedong mall, atau ambil les ini itu belajar lagi di dalam gedong, mungkin di daerah gedongan juga. Nanti akhirnya pulang masuk rumahnya yang gedongan lagi untuk tidur. Sementara yang tidak punya rumah gedongan sudah disodori bayangan enaknya tinggal di rumah gedongan dari tontonan yang non stop 24 jam. Jadi cita-citanya pun ya jadi orang gedongan. Lupa menikmati sejengkal halaman yang banyak tanaman. Jadi bagaimana mau cinta alam, mau kenal alam, kalau sejak lahir, tumbuh besar kemana-mana hanya masuk dalam sangkar gedong lagi?)

Action, action, action
Begitulah keadaan kita sekarang ini. Kalau kita lihat contoh garis besar kejadiannya:
- Pertama bencana terjadi di Indonesia (misal kebakaran hutan).
- Kenapa terjadi bencana? Karena tindakan manusia mengeksploitasi alam tanpa perhitungan matang, atau bahasa kerennya tidak memperhitungkan daya dukung lingkungan (ceritanya mau bikin perkebunan, pH tanah tidak cocok dengan tanaman yang akan ditanami, jadi bakar dulu lokasi untuk meningkatkan pH tanah tadi).
- Siapa yang terkena bencana? Seluruh masyarakat, bisa di sekitar lokasi bisa juga jauh dari lokasi. (Ingat, kebakaran hutan di Indonesia, yang keasapan dan menuai penyakit selain Indonesia sendiri juga negara tetangga. Tetapi biasanya si pemrakarsa --dalam contoh ini yang membakar hutan-- tidak terkena dampak secara langsung, karena mereka berduitlah..)
- Kapan bencana terjadi ? Ada yang bisa diprediksi karena selalu berulang setiap tahun tapi tidak kunjung disadari dan diatasi. Ada bencana baru akibat tidak pernah belajar dari pengalaman bencana sebelumnya. Ada yang memang baru sama sekali. (Mungkin yang baru ini bisa dicontohkan bencana Lumpur Lapindo lah….)

Jadi apakah kita sudah mendapat jawaban dari pertanyaan kita di atas? Rasanya sudahlah yau….. Tinggal actionnya sekarang.

Saya mengajak Anda yang membaca tulisan ini, memberi sedikit sumbangan untuk mengurangi pengrusakan lingkungan sekarang ini. Tapi tenang saja, saya tidak minta uang.

Saya hanya minta kesediaan Anda, Anda, dan Anda untuk sedikit melakukan perubahan setiap hari. Misalnya: tidak membuang sampah sembarangan, kalau ada tanah sejengkal di halaman tanamilah dengan pepohonan, kalau ada kesempatan melakukan usaha/bisnis jangan sampai merusak lingkungan, sedapatnya membuat rumah yang ramah lingkungan, yang sesuai dengan iklim tropis kita ini jadi tidak perlu pake AC, tidak perlu listrik untuk penerangan nonstop 24 jam lagi.

Bagi yang kerja kantoran sebisanya memanfaatkan kertas bekas sebelum benar-benar dibuang, mengurangi pemakaian kertas tissue, menaruh beberapa tanaman yang dapat menghisap racun di udara seperti tanaman Chinesse Evergreen (sejenis Sri Rejeki) atau Dracaena (yang ini saya lupa nama lokalnya) untuk meningkatkan kualitas udara dalam ruangan.

Bagi ibu rumah tangga bisa mengurangi pemakaian diapers, lebih menyukai hasil kebun lokal daripada impor (kebun lokal biasanya kalah mutu sama produk luar. Kelihatannya dari daunnya yang bolong-bolong, berulat, jelek, cepat busuk karena cara pengemasan yang kurang ok. Tetapi itu juga indikasi pemakaian pestisida yang minim, jadi sayuran lebih sehat, tanah kebunnya juga lebih sehat. Efek selanjutnya kalau permintaan untuk barang lokal tinggi maka pasar bisa bergeser mengangkat produk lokal menjadi primadona, lalu petani untung, lahan kita juga selamat. Jauh sih hubungannya, tapi tetap ada jika ditelusuri lebih jauh)

Begitulah kira-kira. Anda pasti bisa menambah panjang daftar itu.
The point is: it must be started from ourselves
. Semua harus kita mulai dari diri kita sendiri. Percayalah, tindakan-tindakan kecil ini akan membawa perubahan besar pada waktunya. Yang diperlukan hanya kemauan.

Sekarang!

Friday, November 17, 2006

Dicari .......Penghargaan (yang Hilang)

Beberapa hari terakhir ini aku belusukan di dunia maya mencari bermacam-macam informasi tentang kepenulisan. Sebenarnya aku mencari contoh cover letter. Tapi entah aku yang mencarinya ditempat yang tidak tepat, aku tidak menemukannya.

Aku malah masuk ke dalam bermacam-macam milis penulis. Macam-macam namanya. Aku tidak ingat. Kalau mau cari langsung aja surfing pake kata kunci menulis, atau penulis, atau apa saja yang berkaitan dengan tulis menulis.

Seperti yang kukatakan tadi, aku tidak menemukan contoh cover letter yang kuinginkan. Tetapi aku banyak mendapat informasi tentang penulisan, penerbitan, cara mengirim naskah, cara penulisan, semua hal yang bersangkutan dengan menulis, mengirim ke media atau menerbitkan buku. Beberapa malah mendapat masukan langsung dari editor suatu penerbitan, atau mendapat nasehat dari penulis yang sudah malang melintang di dunia kepenulisan.

Tapi dari sekian banyak informasi yang kudapat itu, aku mendapat kesan sedikit sekali yang mengajarkan tentang MENGHARGAI DIRI SENDIRI yang pada gilirannya berarti kita akan menghargai orang lain. Kesan yang kutangkap dari tanya jawab di milis-milis itu penerbit/editor maunya dihargai. Walaupun sebenarnya mereka tidak salah. (Tentu saja setiap orang inginnya dihargai dan sudah seharusnya kita menghargai orang lain. Tetapi kalau kita tidak pernah diajar untuk menghargai diri sendiri bagaimana kita bisa menghargai orang lain).

Jelasnya begini, dan ini tidak hanya terjadi dalam dunia penulisan saja, tetapi dalam bidang yang lain juga. Orang kita umumnya kalau sudah hebat sulit menghargai orang lain. Umumnya, orang kalau sudah hebat terus sikapnya mentang-mentang. Mau ini itu. Cerewet dan pemilih. Tetapi sering kali dengan sikapnya itu lantas dia tidak dapat lagi menghargai orang lain. Maunya dia saja yang dihargai. Kalau sama orang mikirnya “who do you think you are?”.

Tentu saja setiap orang bebas bersikap seperti yang dia inginkan. Mungkin aku saja yang terlalu berharap. Too high expectation. Hanya saja menurutku, seharusnya justru dalam forum seperti milis-milis seperti itu kita bisa menularkan sikap saling menghargai tadi.

Sederhananya seperti ini. Ada orang yang memang punya bakat. Dia hebat. Kita menghargainya karena kehebatannya. Tetapi ada orang yang tidak punya bakat. Dia berusaha hebat. Kita menghargainya. Ada lagi orang yang payah. Pokoknya nggak ada bagus-bagusnya deh. Hasil karyanya juga payah. Seharusnya kita tetap menghargainya. Menghargai usahanya, mencari yang terbaik dari yang buruk. Bukan bersikap, wah ini buruk, lewatkan saja.

Sebenarnya saat aku belusukan itu, aku menangkap pesannya. Ya pesannya sama. Bahwa seharusnya kita menghargai orang lain dengan berperilaku yang pantas sehingga orang juga akan menghargai kita. Tetapi banyak sekali kiranya orang kita yang tidak tahu cara berperilaku yang pantas penuh sopan santun, atau ada yang merasa terlalu hebat sehingga dia merasa tidak perlu lagi menghargai orang lain dengan sikap yang santun.

Tetapi justru --dalam hal ini karena berbicara tentang kepenulisan--, orang-orang yang berada dalam posisi menentukan bisa mendidik bagaimana bersikap yang santun dalam berperilaku dalam dunia kepenulisan ini.

Sayangnya dari hasil belusukanku kemarin, kelihatannya tidak begitu. Para penentu juga mengambil sikap yang sama dengan orang yang tidak santun dengan sama-sama bersikap tidak santun. Kalau begini kapan ada yang bersikap santun?

Lalu mereka memberitahu, kalau mau diperhatikan begini lho seharusnya bersikap sama orang. Seandainya orang yang tidak santun membaca, kemudian tahu, kemudian karena merasa perlu, dia mengikuti pemberitahuan itu untuk bersikap santun, mereka akan melakukannya selama mereka perlu saja. Begitu mereka punya ‘gigi’ ya balik lagi ke sikap asal, tidak santun. Hanya sekarang posisi mereka berubah. Mereka orang hebat sekarang, jadi berhak dong mendapat penghargaan lebih….. Lalu maunya orang lain saja yang bersantun-santun dengannya. Lalu kapan masyarakat kita sadar untuk bersikap santun. Padahal mereka yang bergerak dalam bidang media punya akses yang kuat untuk mempengaruhi orang lain dan menyebar pesan yang baik. (Menyebar pesan yang buruk juga bisa, so watch out!)

Yah ini cuma rasan-rasan. Aku heran. Kok ketika aku belusukan ke milis atau web nya orang luar bahasa yang mereka gunakan sangat menyenangkan. Mereka menghargai semua pelaku proses kreatif, baik yang hebat maupun yang sangat tidak hebat. Everyone is appreciated.

Yah, tapi bisa jadi rasan-rasan ini lahir dari kondisiku yang biasa-biasa saja dalam dunia kepenulisan ini. Bukan orang hebat. Jadinya gerundelan di belakang. Ha…ha…ha……

Samarinda, 17 November 2006

How to ...........

Aku ini senang ngoceh, berpikir, bertanya tiada henti. Kadang-kadang begitu derasnya pikiran yang mengalir sampai tidak tertampung lagi dan aku tidak punya cukup waktu dan tenaga untuk menuangkannya ke dalam tulisan. Terhalang oleh kewajibanku untuk bekerja juga tuntutan pemenuhan kebutuhan hidup. I have to make my living. Jadi sampai sejauh ini bagiku menulis masih untuk bersenang-senang.

Karena itu juga tulisanku tidak fokus. Tergantung apa yang sedang menarik perhatian dan minatku. Atau aku sedang terganggu dengan hal apa. Jadinya kadang aku menulis tentang lingkungan, kadang tentang agama, kadang tentang politik, kadang tentang budaya. Apa saja yang terlintas di pikiranku. Aku menulis cerpen, cerita anak dan puisi. Aku melukis. Dan kegiatan itu semua menggunakan energi yang sama. Energi kreatif.

Aku menemui saat aku sedang ingin melukis dan dapat menghasilkan lukisan yang tidak memalukan untuk dipajang, aku stop menulis. Atau aku masih menulis, tapi menulis rubbish. Lain waktu aku lagi heboh bikin cerita anak, energiku terpusat di situ maka aku tidak bisa menghasilkan lukisan yang bagus--menurutku. Begitu juga dalam hal topik yang ditulis. Lagi menulis cerpen, yang lain ya stop. Aku tidak bisa berpikir kreatif secara simultan untuk beberapa hal yang berbeda. Lagipula, siapa juga yang bisa?
(Tapi ini di luar hal-hal rutin yang harus kukerjakan lho ya… seperti tugas rumah tangga, tugas kantor minus decision making. Hal rutin tidak memerlukan kreatifitas lagi, jadi bisa berjalan simultan dengan proses kreatif).

Pemahaman yang kudapat dari hal ini adalah kita tidak boleh serakah ingin mengerjakan semua dalam satu waktu. Everything has its own time and space. Jadi kerjakan satu per satu, langkah demi langkah, agar mendapatkan hasil yang memuaskan. Kalau kita serakah ingin meraih semuanya, kita malah kehilangan semuanya.

Sejauh ini ternyata kelihatannya isi tulisan ini tidak ada hubungannya dengan judulnya. Ini hal buruk lain yang sering kulakukan (Kalau ini bisa dibilang buruk. Karena sebenarnya nggak buruk-buruk amat, ndak cocok sama isi kan tinggal ganti judul).

Aku jarang membuat frame tulisan. Jadi begini deh melenceng dari jalur semula, meskipun hal yang kutulis diatas memang benar aku alami juga. Dan karena kurasa tidak ada yang keberatan dengan judul yang tidak cocok di atas. So……

Bye bye………(for now)


Samarinda, 17 November 2006

Telanjang = Birahi ??

Hari Kamis yang lalu aku mengambil cuti sehari khusus untuk melakukan hal yang mungkin tidak terpikirkan oleh orang lain akan dilakukan olehku. Aku mewujudkan keinginanku untuk DIFOTO seperti seorang model.

Aku merasa diberkahi memperoleh suami yang bisa memahami keinginanku yang tidak biasa, mau membantu, memfasilitasi dengan ide-idenya yang luar biasa. Jadilah hari itu seharian aku dijepret sana sini sampai 400 kali. Just like the model!

Aku berdandan. Mengenakan bermacam-macam pakaian yang sulit aku kenakan di hari-hari biasa karena bisa-bisa mata orang melotot padaku karena dianggap tidak sopan. Memakai wig yang sudah kusimpan hampir setahun. Mencoba bermacam-macam gaya. Dari gaya bengong bego sampai gaya penari India. Dari gaya robot sampai postur yoga. Aku mencoba semuanya. And that was really fun!

Suamiku mengatur dekorasi, background, pencahayaan (yang masih sangat amatiran), memotret (terima kasih Tuhan kini sudah ada kamera digital, sangat membantu), mengarahkan gaya agar terlihat ciamik di kamera, termasuk menyiapkan konsumsi karena aku tidak masak seharian.

Anakku yang besar memilih main ke tempat temannya. Anakku yang kecil kutitipkan ke tempat penitipan biasa. Jadilah aku menikmati seharian itu menjadi seorang model tanpa gangguan, bergaya seperti model dan merasakan lelah dan sulitnya melakukan pemotretan semacam itu. Perlu energi, stamina yang oke, konsentrasi dan kesungguhan untuk mendapatkan hasil yang memuaskan. Dari pengalaman ini juga aku menjadi lebih menghargai profesi seorang model dan fotografer. (Sssttt……..suamiku juga kelelahan, sampai 3 hari kemudian baru dia merasa fit lagi)

Tetapi hal yang paling asyik dari semua itu adalah aku sempat berpose persis seperti pose Sophia Latjuba di majalah Popular yang bikin heboh pada waktu itu (sudah berapa tahun yang lalu ya kejadiannya?). Foto bugil tapi tidak terlihat bugil (semoga tidak ada yang protes, karena aku difoto oleh suami sendiri, hasil fotonya untuk dinikmati sendiri, ini bukan untuk konsumsi umum!) – yang indah!

Setelah sesi pemotretan yang melelahkan itu tibalah saatnya aku dan suamiku memilih, menyortir hasil pemotretan hingga terkumpul sekitar 100-an foto yang cukup oke untuk fotografer dan model amatiran seperti kami. Termasuk foto ala Sophia Latjuba yang kusimpan rapi tersendiri dengan hati-hati (Tapi bangga bo! Aku bisa terlihat indah di usia yang sudah segini!)

Dari situlah diskusi ini bermula. Aku bertanya mengapa banyak orang (baca: laki-laki) yang tidak tahan memandang foto-foto semacam ini, sehingga bertebaranlah majalah atau koran atau media yang jualannya yah sekitar begituan lah. (Hukum ekonomi : ada permintaan –demand-- maka ada penawaran --supply. Kalau sekarang terlihat supply-nya lebih banyak, heboh, gegap gempita, itu karena mereka yang memberi supply tahu bahwa banyak sekali potential demand yang belum tergarap di luar sana! –termasuk orang-orang golongan PIKTOR LACI –PIKiran koTOR berLAgak suCI--)

Kesimpulannya hanyalah bahwa semua karena hal-hal yang indah ini telah disalahpahami. Bahwa ketelanjangan tidak lagi dianggap sebagai sesuatu yang alami. Bahwa keadaan alami manusia di masa sekarang ini selalu dikatakan sebagai hal yang mengundang malu atau birahi. Dan yang paling ngawur, adalah saat birahi kemudian dianggap sebagai sesuatu yang memalukan dan menimbulkan dosa. Padahal misalnya, apabila dalam sebuah rumah tangga birahi tidak ada, hancurlah rumah tangga itu, dan bingunglah pasangan suami istri itu mencari solusi kemana-mana.

Jadi pada akhirnya semua hanya karena kesalahan proses berpikir, yang kebanyakan bermula dari doktrin agama yang dipahami keliru. Seperti misalnya; berpakaianlah yang sopan dan pantas, tapi kemudian dipahami sebagai --kalau bahunya terbuka itu artinya menggoda iman. Atau kalau memakai pakaian ketat artinya mengundang ke ranjang. Nah lo!

Seandainya orang melihat perempuan pakai kebaya cukup dinikmati saja, --oh indahnya. Atau lihat orang pakai bikini, maklum saja. Tidak marah-marah pada yang pakai bikini (karena biasanya yang marah-marah itu tidak mampu pakai bikini karena malu--gemuk, cacat dllsb). Yang laki-laki juga tidak perlu melotot lihat perempuan berbikini, saingi saja dengan memakai celana speedo. Selesai perkara!

Jadi apakah ketelanjangan mengundang birahi? Jawabannya relatif bagi setiap orang. Tapi tidak seharusnya seseorang menghakimi yang lain atau sekelompok orang memaksakan nilainya tentang hal itu pada yang lain.


Aku sendiri menikmati ketelanjanganku. Dan menerima keadaan diriku ini sepenuhnya. Begitu juga orang-orang yang mencintaiku.



Samarinda, 17 November 2006

Saturday, October 28, 2006

Bencana dan Parpol

Samarinda kebakaran lagi!

Baru beberapa hari yang lalu suamiku bertemu dengan Manajer Operasional PMK Mulawarman yang bercerita bahwa setiap kali bulan Ramadhan atau Lebaran tiba, dia deg-deg-an menunggu ada kebakaran atau tidak. Dari pengalamannya, sekali terjadi kebakaran, kecil atau besar, biasanya akan terjadi kebakaran berikutnya. Kebakaran tidak pernah terjadi sekali. Begitu kesimpulannya.

Suamiku baru usai menceritakan kembali kepadaku tentang hal itu, dan malamnya listrik di rumah kami padam. Kebakaran!. Malam itu kebakarannya tidak besar. Beritanya tidak sampai masuk koran. Korbannya hanya tiga rumah. (Sebenarnya itu karena setelah rumah ketiga tidak ada rumah lagi. Jadi kebakaran tidak meluas karena api tidak bisa menjalar kemana-mana lagi).

Besok malamnya kembali listrik padam di rumah kami. Aku langsung melihat langit. Ah ya, kebakaran lagi. Yang sekali ini besar. Langit membara. Lokasi kejadian cukup jauh dari rumahku. Tapi kalau melihat warna langit yang memerah seperti itu, dapat terbayang luasnya kebakaran yang terjadi. Kebakaran terjadi di daerah muara (sungai). Dan ternyata,-- belakangan aku tahu-- ini adalah kebakaran yang ke-empat yang terjadi selama bulan Ramadhan ini.

Tetapi karena yang ke-empat ini adalah kebakaran yang paling besar, memakan korban paling banyak, dan lokasi kebakaran juga sampai di pinggir jalan raya, --seperti yang telah kuduga sebelumnya--, ramai-ramailah para parpol membuka dompet bencana dengan mengusung panji-panji partai masing-masing. Yang pertama bergerak cepat --seperti biasa-- adalah PKS (Partai Keadilan Sejahtera). Di hari kedua partai yang lain bermunculan satu persatu. Di hari ketiga PKS bahkan sudah bisa menyebut jumlah sumbangan yang terkumpul, angkanya dipampang besar-besar dipinggir jalan. Yang belakangan menimbulkan pertanyaan di benakku. Benarkah angka sumbangan yang diklaim sebesar itu (dalam ratus juta rupiah)? dan seandainya benar sumbangan yang terkumpul sebanyak itu (oh alangkah dermawannya secara umum masyarakat kita, tidak pelit membantu), sampaikah sumbangan itu ke tangan korban bencana ? atau hanya untuk gaya-gayaan saja?

Terus terang aku merasa malu dan prihatin melihat parpol-parpol itu. Setiap kali ada bencana (di Samarinda ini, entahlah di kota-kota lain) mereka memang langsung membuka pos untuk menampung sumbangan dan bantuan dari masyarakat untuk korban bencana. Sebenarnya semangatnya bagus dan mulia. Judulnya kan membantu sesama. Tetapi karena mengusung nama partai masing-masing besar-besar, niat mulia tadi malah jadi tanda tanya. Apa maksudnya?

Waktu kecil, aku diajar. Kalau membantu dengan tangan kanan, tangan kiri tidak boleh tahu. Artinya kalau mau membantu tidak usah pengumuman. Itu namanya riya’. Nah..nah.. artinya parpol-parpol ini sebenarnya kan pada riya’ berjamaah. Atau kalau tidak ya, bantuan mereka memang ada pamrihnya. Just say ……kampanye terselubung gitchu loh …..Ihik..ihik…..

Tapi rasanya masyarakat kita sekarang sudah tambah pintar, bisa membaca keadaan, tahu maksud pepatah ada udang di balik batu. Bahasa kasarnya, nih lho aku bantu, ingetin nih partaiku. Partaiku yang paling perhatian nih sama rakyat kecil…..(Aku sangsi kalau mereka benar bisa berkuasa mereka akan masih ingat sama rakyat kecil. Bukannya rakyat malah direpresi dengan agenda mereka sendiri?)

Entahlah….. aku bukan orang dermawan. Aku sangsi menyumbang. Lagi pula kalau aku mau menyumbang aku kan tidak perlu umumkan? Jaman sekarang aku benar-benar bingung kemana bisa menyalurkan bantuan tetapi aku tetap bisa yakin bantuanku akan sampai ke tangan yang membutuhkan bantuan sebenar-benarnya.

Tapi setiap orang punya pilihan.

Kurasa aku hanya ingin menyampaikan pada parpol-parpol itu. Cobalah malu sedikit sama rakyat. Anda mau cari suara, cari simpati. Membantu di sana sini. Tapi pamrihnya besar sekali. Jelas-jelas terbaca. Apa mau anda. Seandainya anda orang biasa-biasa. Adakah anda akan membantu juga?

(Tapi mungkin lebih baik mereka yah? Paling tidak mereka berkarya. Daripada saya, hanya bicara saja….;)

Samarinda, 20 Oktober 2006

Tuesday, October 17, 2006

Kearoganan Negara Tetangga - Kebodohan Kita

Bicara tentang negara tetangga Malaysia --negeri jiran--, akhir-akhir ini setidaknya ada dua berita yang menggangguku. Pertama tentang nelayan-nelayan Indonesia di perairan Belawan yang ditembak tentara Diraja Malaysia. Kedua tentang komentar Malaysia yang menilai lambannya pemerintah Indonesia menangani asap kebakaran (pembakaran?) hutan.

Hal yang pertama, tentang nelayan. Lagi-lagi titik pangkal persoalan adalah beda pengakuan teritorial laut kita. Indonesia menghitung wilayah Zona Ekonomi Ekslusif (ZEE) sesuai Konvensi Hukum Laut 1982 sejauh 200 mil dari garis pantai. Ini adalah hak istimewa Indonesia sebagai negara kepulauan. Sedangkan Malaysia menghitung batas persinggungannya dengan Indonesia di selat Malaka berdasarkan kesepakatan Landas Kontinen 1970. Menurut Indonesia Landas Kontinen gugur karena ZEE tadi, tapi Malaysia bersikukuh bahwa garis ZEE dan Landas Kontinen adalah satu. Akibat debat perbedaan pengakuan jarak itu, mengakibatkan nyawa nelayan Indonesia hampir melayang.

Tetapi ini bukan kejadian pertama. Sebelumnya nelayan Indonesia juga sering ditembaki oleh tentara Malaysia. Perahu mereka rusak, bolong-bolong. Adegan kejar-kejaran seperti di film-film juga berlangsung. Sebenarnya bagian inilah yang aneh. Seharusnya jika tentara Malaysia melihat ada pelanggaran batas wilayah seperti itu, peringatan saja sudah cukup. Setelah itu diselesaikan baik-baik. Tidak perlu ditembak mati-kan ? Prosedurnya mana, seperti apa? Kelihatannya tentara Malaysia tidak mengambil jalan itu.

Wahai pemerintah Indonesia, bagaimana ini? Mana jaminan keselamatan dari pemerintah bagi seluruh warga negara dalam bekerja? Kemana pemimpin-pemimpin kita ini? Apa kebijakan pemerintah Indonesia terhadap sikap Malaysia yang seperti ini?

Kedua, tentang asap kebakaran hutan. Setiap tahun hal ini terjadi. Negara tetangga menyalahkan Indonesia karena dari tahun ke tahun tidak ada solusi untuk memecahkan masalah ini. Tetapi mereka juga tidak membantu. Dan saat terungkap beberapa kasus terjadinya bencana asap itu karena pembakaran hutan yang disebabkan oleh pengusaha-pengusaha Malaysia juga --entah pembukaan lahan dan usaha peningkatan pH tanah untuk penanaman perkebunan sawit ataupun hanya untuk mengambil kayunya begitu saja-- pemerintah Malaysia tutup mata. Pokoknya yang salah Indonesia.

Terus terang aku tidak sabar melihat reaksi pemerintahku sendiri. Indonesia ini sudah terkenal di negara tetangga yang serumpun Melayu sebagai negara yang penuh masalah, yang malas, dst, dst…… Cukuplah sudah itu. Tapi janganlah menjatuhkan harga diri sendiri dengan menerima begitu saja limpahan kesalahan dan umpatan kebodohan dari negara lain seperti itu. Aku melihat pemerintahku tidak memiliki rasa cinta tanah air yang kuat. Tanah dan air lho! Bukan hanya tanah. Bukan hanya pulau Jawa. Tapi seluruhnya, seluruhnya. Yang kecil-kecil, yang jauh di mata pun juga.

Tapi mau ngotot menang sendiri berbicara tentang hal ini rasanya lucu juga. Karena semua hal di atas bisa terjadi karena kesalahan Indonesia sendiri juga. Kalau pemerintah Indonesia tidak menunda-nunda penyelesaian masalah pengakuan batas teritorial laut, atau tidak mengabaikan perbedaan pengakuan ini begitu saja, seharusnya ada usaha-usaha yang terus dilakukan untuk membereskan masalah ini hingga bisa dicapai kesepakatan dengan pihak Malaysia tentang batas laut masing-masing.

Kalau pemerintah mengatur tertib pengusaha-pengusaha mana yang boleh merambah hutan, ijinnya sejauh apa, apa saja yang boleh dilakukan, mungkin kejadian kebakaran hutan seperti yang masih berlangsung hingga hari ini tidak perlu terjadi setiap tahun. Di mataku kebakaran hutan seluas, selama dan serutin ini adalah karena pembakaran, bukan sebab alami.

Sekarang kalau rakyat kecil sepertiku marah pada sikap Malaysia, bagaimana dengan pemerintahku yang adem-adem saja. Langsung minta maaf pada negara tetangga atas gangguan ini sih boleh-boleh saja. Tapi jangan terlalu merendahkan diri sendiri. Aku gemas sekali dengan pemerintahku sekarang ini.

Dulu kasus Ambalat, lalu rebutan Sipadan Ligitan. Indonesia kalah terus. Malaysia coba-coba lagi kan? Kalau diibaratkan, aku jadi Malaysia, melihat tetanggaku anak baik, barangnya diambil diem, rumahnya ditinggalin diem, makan minum tidur di rumahnya diem, ya kuambil aja rumahnya sekalian. Toh rumahnya ndak pernah diurusin, ndak pernah dijaga, penghuni rumah ndak bisa makan, diambil alih saja sekalian. Logikanya sih begitu. Tapi apa Indonesia mau dibegitukan?

Apakah lama-lama sedikit demi sedikit wilayah abu-abu Indonesia akan jatuh satu persatu ke tangan negara tetangga?
Oi pemerintah, apa kerjamu?

Sementara orang Malaysia --maksudku benar-benar masyarakatnya-- bisa berkomentar dengan tenang (jadi ‘ketok’ orang pinter, terpelajar gitu loh!), “Oh menang-menang Indonesia kalau sampai perang, tetapi untuk apa perang. Kami tidak akan mengambil sesuatu yang bukan milik kami. (Padahal justru masalahnya di situ, Malaysia ingin memiliki semua wilayah abu-abu Indonesia, karena Indonesia diam saja). Lagi pula ingatlah, berapa banyak orang Indonesia yang mencari makan di Malaysia”.(Duh pemerintahku, kalau orang sampai bilang begini bagaimana lagi menjawabnya? Siapa lagi yang harus disalahkan selain diri sendiri. Memberi makan rakyat sendiri saja tidak mampu, hingga harus mengais-ngais menjadi kuli dan babu di negeri orang?)

Tidak tahu lagi aku harus berkomentar apa dan berpikir mengapa, atau memberi solusi bagaimana. Aku cinta tanah airku. Satu hal itu yang pasti. Aku mewujudkan cintaku dengan apa yang aku mampu. Hanya saja, saat ini aku tidak mampu memberikan yang lain selain tumpahan kekesalan dan kesedihan hatiku. Saat ini hanya itu yang mampu kuberi. Saat ini, detik ini, kekesalan dan kesedihan itu tumpah dalam tulisan ini. Mungkin di lain waktu aku bisa melakukan hal lain. Atau jika sampai waktuku, I could make something big, very big, so I can make a diference. A big difference.

(But why wait big? Why not now, this moment?)

Tanah airku, aku mencintaimu!

Samarinda, 16 Oktober 2006