Saturday, April 14, 2018

Old Reflection And Afterthought - Look Yourself !


Aku menemukan tulisanku ini setelah vakum menulis hampir 15 tahun. Dibuang sayang. Karena masih juga benar apa yang kutuliskan waktu itu. Biarlah kuletakkan di sini sebagai caraku memulai lagi pekerjaan dan kesukaanku ini.
 
Samarinda, 13 Agustus 2005

Dua hari yang lalu aku menulis Doa Metta di kertas folio untuk kutempel di meja kantor. Cuma tulisan polos begitu. Setelah kucetak kertasnya kulukis dengan tanganku sendiri. Aku tak punya rencana untuk melukis apa. Aku hanya melukis. Dan hasilnya mengejutkanku. Yang kulukis adalah bunga kecil-kecil, banyak, pengulangan garis lurus, garis lengkung, segitiga, lingkaran kecil dan besar. Sambil melukis aku ingat goresan-goresan yang kubuat mirip dengan lukisan-lukisan etnik dari berbagai suku, etnis di dunia.

Aku bertanya dalam hati, mengapa lukisanku seperti itu. Apakah itu sejalan dengan perubahan pola pikirku. Sesuai perjalanan usiaku dan pengalaman hidupku?.

Aku mengenang kembali masa mudaku. Dulu, when I was younger, aku suka lukisan abstrak. Bagiku saat itu lukisan abstrak itu penuh keindahan yang tak terkatakan. Tapi kini aku memahami lukisan abstrak itu sebagai pencarian jati diri. Waktu itu aku masih muda, tidak mengenal hidup dan kehidupan, tidak tahu akan melangkah kemana, tidak tahu apa yang dicari, apa yang diinginkan. Singkatnya aku tidak tahu apa-apa, semua kabur dan samar-samar.

When I grow old, aku mulai melukis hal yang lebih jelas, lukisanku punya bentuk. Well I’m not a painter, aku hanya melukis. Lukisan orang amatir, lukisan orang yang tidak bisa melukis. Tapi aku tahu apa yang ingin kulukis. Aku memahaminya sebagai – aku sudah mulai memahami apa yang kucari, aku mulai mengerti arti hidup ini, aku mulai paham kehidupan, mulai menikmati.
Still, saat ini di usiaku yang menginjak 34 tahun, aku melukis pengulangan-pengulangan, garis-garis sederhana yang dilukis berulangkali membentuk pola yang indah, tenang, damai.

Saat itu aku sadar bahwa ini adalah juga salah satu fase dalam hidupku. Mungkin saat ini aku sudah menyadari bahwa hidup ini adalah pengulangan-pengulangan saja dari pengalaman-pengalaman kita sebelumnya - selama kita belum memahami inti, pelajaran hidup itu. Aku memahami bahwasanya pola-pola etnis yang kukagumi itu adalah kristalisasi dari pengalaman hidup, penghayatan, pencerahan luar biasa dari pelukis-pelukisnya, nenek moyang segala bangsa. 

Aku teringat dengan lukisan-lukisan cina kuno yang biasanya disertai puisi untuk menerangkan makna lukisan itu. Aku langsung merasa haru, kagum yang luar biasa atas pencapaian para pelukis atau penyair atau apalah namanya – mereka itu. Kalau mereka pelukis mereka bukanlah sekedar pelukis, kalau mereka penyair mereka bukan sekedar penyair, mereka para bijak jaman dahulu yang menuangkan pengalaman hidup, pemahaman dan pendalamannya pada kehidupan dan menuangkannya ke dalam lukisan, puisi, lagu dan segala macam karya seni. Aku terharu dan merasa tercerahkan saat itu juga. 

Apa yang dapat kusimpulkan adalah bahwa apapun itu, apaun hasil karya yang dihasilkan seseorang – tidak hanya lukisan – itu mencerminkan dirinya, mencerminkan emosinya, pemahamannya. Dengan mengapresiasi karya seni kita bisa belajar membaca apa yang dialami oleh pembuatnya. Membaca untuk mengambil pelajaran dari sana.

Friday, April 13, 2018

Mind Over Matter


Istilah ini telah menarik perhatian saya. Dan perlu hampir tiga bulan lamanya sebelum saya mampu mulai menulis baris-baris kalimat ini. Omong-omong saya mendapat frase mind over matter ini dari novel Twilight Saga yang booming di seluruh dunia sejak pertama kali terbit tahun 2005. Twilight Saga ini sendiri bercerita tentang kisah cinta terlarang antara vampir (dalam kisah ini bernama Edward) dan manusia (Bella).

Dikisahkan vampir tidak seharusnya jatuh cinta kepada manusia karena alaminya manusia adalah mangsa vampir. Jadi adalah alami kalau Edward kemungkinan besar akan slip, lalai, lupa kalau Bella adalah kekasihnya dan kemudian memangsanya. Selama Edward masih dalam keraguan, tidak memiki keyakinan penuh pada kemampuannya untuk mengontrol diri, dan bahkan ketika Edward masih merasa ada kemungkinan dia akan lupa, maka dia memang bisa melakukan kesalahan itu: memangsa Bella, kekasihnya. Dan dia akan tetap seperti itu, bimbang dan berbahaya, hingga pada titik dia berhasil memutuskan bahwa dia cukup kuat, bahwa dia mampu mengontrol diri, bahwa tidak ada kemungkinan sedikitpun dia akan lepas kendali, maka segala apa yang terlihat sebagai masalah tidak ada lagi. Tidak ada lagi kemungkinan dia akan menjadikan Bella sebagai mangsanya. Kesulitannya teratasi. Dan semua itu berawal dari pikiran. Pikiran mengatasi segalanya.

(Wah, sumbernya nggak spiritual banget ya? Tapi siapa bilang kita harus mempelajari spiritualitas hanya dari hal-hal yang spiritual pula. Tidak. Kita bisa melihat sisi spiritual dari apapun, bahkan dari hal yang kelihatannya sangat tidak spiritual seperti novel Twilight ini).

Untuk itu cukup tentang Twilight dan Edward. Pelajaran dari Edward yang akan kita teruskan.

Menurut Oxford Advanced Learner’s Dictionary, mind over matter diartikan sebagai penggunaan kekuatan pikiran untuk mengatasi masalah-masalah fisik.  Sementara Cambridge Dictionary of American Idioms, 2nd ed 2006  juga memberikan definisi yang mirip, yaitu 1. Bahwa pikiran lebih kuat dari pada hal-hal yang bersifat fisik, dan  2. Sebagai kekuatan pikiran untuk mengendalikan dan mempengaruhi tubuh dan dunia fisik secara umum. Sedangkan McGraw-Hill Dictionary of American Idioms and Phrasal Verbs 2002 menerangkan mind over matter sebagai kekuatan-kekuatan intelektual (kemampuan seseorang untuk berpikir secara logis dan memahami berbagai macam hal) lebih penting dan dapat mengatasi ancaman, bahaya, kesulitan dan masalah-masalah yang dihadapi seseorang.

Istilah mind over matter ini sendiri dipopulerkan antara tahun 1960-1970 yang semula digunakan khusus untuk hal-hal yang berhubungan dengan fenomena paranormal terutama psikokinesis (kemampuan memindah objek dengan kekuatan pikiran). Tetapi kemudian istilah ini juga digunakan untuk hal-hal yang berhubungan dengan doktrin filsafat dan spiritual yang terpusat pada pikiran seperti responsibility assumption (yaitu sebuah doktrin yang mengatakan dimana setiap individu bertanggung jawab pada setiap kejadian dan keadaan yang terjadi dalam hidupnya, dan bahwa keadaan mental seseorang memberi kontribusi yang besar terhadap kejadian-kejadian itu, lebih besar dari yang diyakini sebelumnya).

Dalam kaitannya dengan doktrin filsafat dan spiritual ini, maka kita akan menggunakan makna mind over matter sebagai kemampuan seseorang (secara intelektual) untuk mengatasi segala kesulitan baik berupa masalah sehari-hari, ancaman fisik, mental, emosional maupun situasi berbahaya lainnya.

Berkaitan dengan hal itu ada istilah lain yang juga populer: Master Your Mind. Kuasai pikiranmu. Menguasai pikiran adalah penting, karena apa? Karena segala sesuatu yang kita lakukan atau kita ucapkan sesungguhnya lahir dari pikiran. Dan karena itu pula akan menentukan arah apakah kita akan melakukan hal yang baik atau yang buruk, apakah kita akan bertindak dharma atau adharma. Jadi bila pikiran kita benar, maka ucapan dan tindakan kita akan benar. Tetapi bila pikiran kita kacau, jangan ditanya kekacauan yang ditimbulkan oleh ucapan dan tindakan kita.

Apa kaitan antara mind over matter dengan mastering our mind? Jelas sekali. Apabila kita mampu menguasai pikiran kita, maka kemampuan mind yang melebihi matter ini hanya akan digunakan untuk hal-hal yang baik. Bayangkan saja misalnya, ada seseorang dengan kemampuan psikokinesis yang kuat tetapi tidak memiliki integritas dan tanggung jawab pribadi (dignity) maka apa yang dilakukannya dapat membawa akibat yang buruk bagi kemanusiaan. Seandainya ada di antara pembaca yang pernah menonton film Xmen, maka ada satu tokoh disitu bernama Dr Jane, yang memiliki kemampuan psikokinesis sangat kuat, tetapi saat itu terjadi tidak diimbangi dengan wadah dan willing yang kuat pula, maka yang terjadi kemudian adalah dia tidak dapat mengendalikan kekuatan yang dimilikinya. Dia berubah menjadi jahat dan tanpa mampu ditahannya dia malah menyakiti orang-orang yang menyayanginya (maaf film lagi contohnya, tapi dengan cara ini lebih mudah memberi gambaran).

Mind over matter ini kelihatannya gampang bukan? Hanya sekedar menetapkan tujuan, menetapkan apa yang betul-betul menjadi keinginan kita. Memantapkan pikiran tentang hal itu. Dan bertindak sesuai pikiran kita. Gampang sekali.

Tetapi, seperti semua hal lainnya, selalu yang kelihatan gampang itu sulit pelaksanaannya. Butuh pembiasaan. Latihan. Disiplin. Dalam Twilight, Edward berusia 100 tahun lebih dan 70 tahunnya hidup dalam restrain –penarikan diri-- dari insting hewaninya. Begitupun, dia masih perlu berbulan-bulan berkelahi dengan dirinya sendiri sebelum bisa sampai pada keputusan itu.

Hal yang sama berlaku pada kita semua. Perlu pembiasaan, perlu latihan dan disiplin diri yang kuat untuk bisa menguasai pikiran. Bisa saja kita langsung melatih pikiran. Tetapi akan lebih mudah bila tubuhpun dikondisikan untuk mudah berlatih. Emosi dibersihkan dari yang bersifat negatif. Mental disiapkan untuk teguh. 

Svami Pavitrananda, kepala Vedanta Society di New York dari 1951 hingga meninggalnya tahun 1977 pernah menulis artikel yang dipublikasikan antara November-Desember tahun 1967 dalam terbitan Vedanta and the West, yang berkaitan dengan hal ini.

Beliau mengatakan bahwa segala kesulitan kita di dunia ini dimulai dari pikiran. Pikiran kita adalah kawan sekaligus lawan kita. Bila kita mampu mengendalikan pikiran maka dia adalah kawan. Bila dia yang mengendalikan kita, maka dia adalah lawan. Mereka yang mampu menguasai pikiran akan selalu dalam keadaan damai. Mereka sungguh-sungguh bahagia.

Jika kita mengamati pikiran, maka kita akan tahu bahwa pikiran selalau berubah. Sesaat pikiran kita bahagia, sesaat kemudian sudah tidak lagi. Untuk alasan yang tidak jelas pikiran kita bisa tiba-tiba terganggu karena kita tidak bisa mengendalikannya.

Buku-buku tentang Yoga yang menjelaskan solusi untuk masalah-masalah mental mengatakan bahwa pikiran kita seperti danau yang permukaannya tidak bisa tenang karena tiupan angin. Sama halnya dengan pikiran kita, permukaan pikiran kita tidak bisa tenang karena pengaruh dari kejadian-kejadian di dunia luar. Jadi apabila kita bisa menemukan cara untuk menjaga permukaan danau tidak terkena pengaruh tiupan angin, maka permukaannya akan tetap tenang. Hal yang sama berlaku pada pikiran.

Salah satu metode untuk membuat pikiran kita tenang adalah dengan jalan menonton pikiran. Dengan cara ini pikiran akan merasa jenuh karena hanya dilihat. Ibarat nyala api, dengan hanya dilihat, artinya kita tidak menambah kayu bakar ke dalamnya. Pikiran itu lama-lama akan mati dan kita menjadi tenang. Tapi untuk bisa menonton pikiran saja seperti itu tentu saja kita perlu latihan.

Metode yang lain adalah dengan berdoa kepada Tuhan atau mengulang-ulang nama-Nya (japa). Banyak buku-buku tentang yoga memberikan penjelasan mendetail tentang bagaimana cara melakukan japa ini, apa saja yang diperlukan untuk melakukan japa baik secara etika (hal-hal yang berkaitan dengan keyakinan dan prinsip-prinsip mengenai benar-salah) maupun secara fisik dan sebagainya, dan buku-buku itu juga menyebutkan bahwa dengan hanya mengulang-ulang nama Tuhan, kita akan mendapat hasil yang sama.

Ada metode lain. Terimalah apa saja yang datang pada kita sebagai kehendak Tuhan, atau secara sederhana: menerima setiap keadaan. Saat kita bisa menerima bahwa segala sesuatu yang terjadi adalah karena kehendak Tuhan maka pikiran kita akan berangsur tenang. Sangat menarik bukan? Pikiran terganggu oleh stimuli-stimuli dari luar, jadi saat kita bisa menerima apa saja yang terjadi pada diri kita, maka tidak ada lagi yang bisa mengganggu pikiran kita.

Jadi kesimpulannya adalah bahwa pertama kita harus bisa menguasai pikiran. Master your mind, first. Mind over matter adalah hasil. Svami Vivekananda pernah mengatakan’” Pikiran adalah seperti tanah liat bagiku. Aku dapat melakukan apa saja dengan pikiran itu”. Metode apa yang akan digunakan untuk mampu menguasai pikiran harus disesuaikan dengan karakter masing-masing, jenis latihan apa yang lebih disukai dan dirasa lebih cocok.

Dengan memahami hal ini--dengan kemampuan menguasai pikiran--, kita akan mencapai kebahagiaan, merasakan kegembiraan dari kebebasan dalam hidup. Dan bahkan kita malah bisa menggunakan hukum ketertarikan (Law of Attraction) dengan mudah dan memperoleh keuntungan darinya. ***

Monday, July 11, 2011

Al mamatir

Beberapa waktu yang lalu, sepulang dari bertandang ke rumah Mangku Kardi di L2, berjarak sekitar 20 km dari Samarinda, seperti biasa aku duduk di boncengan motor suamiku beserta kedua anakku. Maklum deh belum punya mobil. Waktu itu siang menjelang sore. Sekitar jam 2 siang, tapi hari masih terasa panas membentang. Sinar matahari terasa pedas membakar kulit.


Sudah memasuki wilayah Samarinda, sewaktu untuk pertama kalinya dalam perjalanan pulang itu kami harus berhenti di lampu merah. Sambil dahi dan mata terus mengerenyit merasakan panas terik membakar kulit, aku sebisanya menutupi Kavyaa yang duduk di pangkuanku agar tidak kepanasan. Dia tidur. “Syukurlah,” batinku. Nah, waktu itulah aku membaca tulisan itu.

Al Mamatir. Tulisan itu terpampang pada papan reklame sebuah penjahit. Tulisannya antara lain, “Menerima Seragam Perusahaan, Kantor, Jas, Safari, PDU, Al mamatir,Dll”.

Aku tercenung. Al mamatir?

Aku bingung. Baju model apa lagi ini. Kalau menilik istilahnya pastilah baju ini masih bersaudara dengan baju model gamis dan sejenisnya. Tidak cukupkah Indonesia sudah dijajah dengan model baju gamis dan sejenisnya, sampai harus ditambah dengan baju model Al mamatir ini?

Aku masih terbingung-bingung, sambil merutuki lampu merah yang tidak kunjung berubah hijau. Sementara di kepalaku masih terngiang-ngiang Al mamatir, Al mamatir. Aku sudah tidak bengong lagi memandangi papan reklamenya. Tapi tulisan Al mamatir, Al mamatir masih terus tertancap di kepalaku. Diputar ulang, diputar ulang.

Tepat saat lampu berubah menjadi hijau, aku mendapat pencerahan. Ah…….!
Almamater maksudnya. Baju almamater.

Aku langsung tertawa terbahak-bahak. Untung Kavyaa tidak sampai bangun mendengar ketawaku. Suamiku sampai kaget, menoleh ke belakang. “Kenapa?” tanyanya.

“Baca tidak tulisan Al mamatir tadi?”

Suamiku langsung terbahak-bahak juga sampai motor kami oleng-oleng.

Bukannya menjawab pertanyaanku, dia malah langsung balik bertanya,“Sudah paham sekarang?”

“Iya,” kubilang.

“Pasti penjahitnya orang Banjar (suku Banjar) dan yang mengerjakan papan reklame juga orang Banjar, sehingga terjadi kesalahan seperti itu”.

Sepanjang sisa perjalanan hingga tiba di rumah, aku masih saja sesekali tersenyum mengingat baju model baru --Al mamatir-- ini.

Kesalahan konyol yang hampir selalu termakan olehku. Karena aku ingat aku pernah bengong juga sewaktu berniat antri bensin di pom bensin, juga bersama suamiku (bagaimana mau antri sendiri, nyatanya aku tidak bisa mengendarai motor ^-^). Saat itu sepi sekali pom bensinnya, hanya ada aku dan satu buah mobil di jalur sebelah. Aku dibuat bengong, saat supir mobil itu begitu membuka pintu mobilnya berteriak ,”Sapi banar”. Lalu dia mengangguk kepadaku.

Aku tersenyum aneh pastinya. Kaget karena mendengar dia memaki-maki dengan kata sapi barusan. Sebelum sejurus kemudian aku sadar. Sepi, maksudnya. Sepi sekali. Halah…. Capek deh…

Masih ada sekali kejadian lagi. Aku pulang kerja waktu itu. Karena suamiku tidak bisa menjemput, aku harus naik angkot. Di hadapanku duduk seorang ibu yang bercerita panjang lebar tanpa diminta tentang anak semata wayangnya pada penumpang yang duduk disebelahnya dengan penuh kebanggaan. Aku yang duduk di hadapannya ikut mengangguk sambil tersenyum menanggapi ceritanya. Sampai ketika dia berkata,” Anakku umpat tis”. Waktu itulah aku blank. Apa itu tis?

Aku malu ingin bertanya.

Omong-omong aku ini orang Banjar. Aku lahir di Banjarmasin. Abahku orang Banjar asli. Aku masih mengerti bahasa Banjar. Gengsi ah tanya tis. Jadi sambil tetap berpura-pura paham ceritanya aku terus mengangguk-angguk dan tersenyum. Sementara itu aku terus berusaha merangkai-rangkai ceritanya. Dan akhirnya, aha…..ketemu. Maksudnya tes. Anaknya ikut tes pegawai negeri. Halah…….

Lagi lagi…..capek deh….

By the way, cerita tentang penjahit di atas tidak ada hubungannya dengan kualitas jahitannya lho ya. Kalau tidak salah suamiku dapat juga baju seragam kantor yang dijahitkan pada penjahit itu, dan hasilnya oke-oke saja. Maksudku cerita ini tidak bermaksud mendiskreditkan penjahit tersebut. Ini hanya kekonyolan pikiranku sendiri. (Idih...takut nih sama UU ITE....wkwkwkkk)

Jadi kalau pendaftaran sapi, coba-cobalah ikut tis penerimaan mahasiswa baru. Supaya kalau sudah tamat nanti bisa pakai baju Al mamatir.

Smile.

Monday, June 13, 2011

Kebaya, Bagaimana Nasibmu Kini?


Tadi malam (13/6/11) aku browsing mencari informasi tentang kebaya. Apa saja deh. Pola kebaya. Orang yang menjual kebaya online. Gambar-gambar kebaya. Pokoknya semua tentang kebaya. Sebenarnya aku ingin menjahitkan kebaya. Tapi tahu tidak? Di kotaku tidak ada penjahit kebaya yang bisa membuat kebaya yang enak di badan. Kebanyakan hasilnya adalah blouse model kebaya. Bukan kebaya. Masak sih aku harus pergi ke Bali menjahitkan kebaya supaya bisa memakai kebaya yang nyaman. Ih…rasanya kok berlebihan.

Aku ingat lebih kurang dua tahun yang lalu, kalau mencari kebaya online yang paling menarik ada di blog punya orang Bali. Sayang aku lupa nama blognya waktu itu. Kini dia sudah punya website. Namanya balikebaya.com

Related imageSekitar dua tahun yang lalu itu, jika kita gunakan mesin search, maka blog balikebaya ini akan muncul di baris pertama. Bukti bahwa dia paling banyak dikunjungi dan dijadikan rujukan maupun tujuan. Kini tidak lagi. Baris-baris awal yang muncul di mesin search paman Google adalah dua website milik pengusaha jiran—Malaysia. Mereka menawarkan aneka model kebaya yang kebanyakan model kebaya panjang agar mudah dikenakan mereka yang mengenakan baju muslim.

Dan hatiku tergelitik hingga ingin ‘mengoceh’ tentang hal ini. Why oh why ? Mengapa oh mengapa? Mengapa orang Indonesia tidak memiliki website yang besar, komplit baik tentang informasi, gallery sekaligus pemesanan ataupun penjualan kebaya ready to wear untuk melayani mereka yang ingin memakai kebaya? Untuk keperluan itu sementara ini hanya ada satu yang lumayan; balikebaya.com. Mana yang lain? Kemana kebaya Indonesia?

Di Indonesia perempuan muslim kebanyakan memakai baju model gamis yang diadopsi dari model pakaian di Timur Tengah. Mungkin bukan sepenuhnya salah mereka. Pasar hanya menyediakan model semacam itu. Tetapi mengapa pasar Malaysia (yang hampir semua wanita muslimnya berpakaian muslim) bisa mengangkat budaya Melayu berupa baju model kebaya menjadi baju muslim sehingga mendongkrak pengusaha mereka (sekaligus membuat ragu-ragu sebenarnya kebaya ini milik siapa?), sedangkan di Indonesia kebaya ditinggalkan?

Kebaya hanya dipertontonkan sebagai olok-olok kaum feodal yang tinggi hati tetapi kikir dan goblok dalan sitkom di layar kaca. Atau pakaian yang dikenakan orang-orang tertentu pada special occasion karena kebayanya sangat sexy, penuh bordiran dan kadang-kadang penuh taburan permata. Betul-betul tidak nyaman untuk dipakai harian. Dan betul-betul mahal untuk kebanyakan orang. Bahkan baju kurung dari Minang maupun Aceh seolah lenyap dikalahkan dengan pakaian model gamis dari Timur Tengah itu. Padahal baju muslim model gamis ini juga tidak murah lho..!! Tapi sekali lagi, mengapa budaya sendiri ditinggalkan?

Oh jawabannya tentu saja jelas.

Dengan ketidakbecusan, ke-plin-plan-an pemerintah sekarang ini, sudah terang-terangan kelompok-kelompok Islam mengikrarkan ingin merubah Indonesia menjadi negara Islam. Sala satu caranya adalah mempengaruhi umat Islam Indonesia yang jumlahnya buueessaar ini untuk melupakan sejarahnya, melupakan tradisinya, melupakan adat istiadatnya. Dengan alasan semua itu bertentangan dengan ajaran agama. Tidak Islami—katanya.

Yang Islami yang berasal dari Arab. Cocok atau tidak cocok dengan kondisi geografis, dengan latar belakang budaya, dengan tradisi semula, maupun kondisi ekonomi,-- tidak peduli. Yang penting dari sono.

Padahal sejarah telah membuktikan berkali-kali. Siapa saja yang melupakan akarnya, siapa saja yang melupakan jati dirinya, melupakan asal usulnya, melupakan sejarahnya, akan musnah di telan jaman. Ini Kebenaran. Tetapi sepertinya masyarakat Indonesia sudah lupa dengan semua ini. Tidak mau berkaca. Menutup mata, baik yang lahir maupun yang batin. Hingga buta. Tidak bisa melihat pertanda. Tidak bisa melihat jauh ke depan. Maka hanya ada kehancuran yang menanti.

Jadi, jangan salahkan kalau suatu hari nanti orang akan mencari kebaya ke Malaysia atau bertanya pada pengusaha Singapura. Jangan heran kalau anak cucu kita mengira kebaya itu berasal dari negeri jiran. Jangan sedih kalau kita semua mengalami nasib buruk sebagai bangsa. Karena kita semua telah durhaka kepada Ibu Pertiwi.

Ah….ini baru soal kebaya. Belum soal lain-lainnya.

Oh oh……kapan jaman akan berganti. Semoga aku tetap diberi kekuatan untuk mengarungi jaman ini hingga waktuku nanti.

Semoga ada yang terketuk dengan tulisan ini dan mulai mencintai kebaya sebagai salah satu pakaian asli kita sebagai orang Indonesia. Semoga yang terketuk itu memiliki channel, memiliki kesempatan, jadi bisa mulai mencari pengrajin-pengrajin penghasil bordir, atau sutera, atau tenun. Lalu bisa menemukan atau melatih bila perlu-- penjahit yang bisa menjahit kebaya. Lalu mulai membuat kebaya yang harganya dapat terjangkau untuk segala lapisan masyarakat dan mulai memasarkannya. Menciptakan mode. Menciptakan demand untuk mendukung industri ini. Menciptakan gaya hidup. Sehingga suatu hari nanti industri kebaya akan menjadi salah satu motor penggerak perekonomian di Indonesia.

Begitulah seharusnya kita memperlakukan budaya kita. Dengan menghargainya. Mengenakannya. Melestarikannya. Sambil meraih keuntungan sebanyak-banyaknya dari advantage yang kita miliki ini. Bukan membuangnya. Bukan menyingkirkannya. Bukan memandangnya dengan sebelah mata.

Oh oh… semoga impian ini menjadi nyata. Semoga impian ini menjadi nyata.

Samarinda 14 Juni 2011

Tuesday, November 23, 2010

Jangan Sakit

Beberapa hari yang lalu, aku menengok teman di rumah sakit. Informasi awal tidak jelas. Memang beberapa hari sebelumnya lagi temanku itu mengeluh perut kanannya sakit. Dia meringis sepanjang waktu. Jadi waktu ada kabar dia masuk rumah sakit, kupikir pastilah dia masuk rumah sakit karena sakitnya yang kemaren itu. Tetapi aku bingung karena dia menginap di kamar untuk pasien kebidanan. Tidak terbayang sama sekali apa penyakitnya hingga dia menjadi pasien di ruang kebidanan.

Pertanyaanku terjawab setelah bertemu. Ternyata ceritanya dia memang semula hendak memeriksakan keluhan sakit di perut kanannya itu. Sembari menunggu surat rujukan, dia memutuskan untuk memeriksa sekaligus mengganti spiral (KB) masih di rumah sakit yang sama. Tetapi entah bagaimana proses pengambilan spiralnya bermasalah. Spiralnya patah. Tertinggal di dalam sebagian. Rahimnya sempat diobok-obok --menurut keterangannya, sampai dia kesakitan-- dan bagian yang tertinggal di dalam ditemukan---separuhnya! Artinya masih ada separuh bagian lagi yang masih tertinggal. Dia akhirnya harus dioperasi untuk mengambil patahan yang tertinggal itu. Bukan main! Setelah menahan sakit luar biasa, masih menerima harus dioperasi, masih harus bayar lagi. Aduh! Perut kanannya yang sakit itu malah belum diapa-apakan.

Tidak. Aku tidak sedang ingin bercerita tentang rumah sakit atau ingin menjelek-jelekken rumah sakit atau apalah istilahnya. Aku hanya tercenung mendengar kisah temanku itu yang kesakitan rahimnya diobok-obok. Sakit lho itu!

Aku pernah hamil 3 kali. Dalam kondisi menjelang melahirkan dan harus menjalani pemeriksaan dalam untuk memperkirakan kelahiran saja aku selalu meringis nyeri. Belum lagi mendengar cerita mereka yang dikuret karena keguguran. Sakitnya...kata mereka. Semoga aku tidak mengalami. Membayangkannya saja bikin wajahku berkerenyit tidak karuan seperti sekarang ini.

Itulah yang ingin aku ceritakan. Aku merasa makin maju ilmu kedokteran, rasanya kok makin jauh dari kemanusiaan. Kalau mendengar kisah-kisah semacam ini aku tidak tahan. Mungkin memang harus ada orang-orang yang kuat, yang tega untuk melakukan hal-hal semacam itu seperti merawat orang yang terluka, menjahit, memasukkan kateter(yang pasti membuat si pasien mengerenyit menahan sakit, kadang sakitnya luar biasa), tetapi prosesnya itu kadang kaku sekali. Seakan si pasien ini cuma onggokan daging tidak bernyawa. Padahal si pasien kan manusia yang kenal rasa takut, cemas, sakit. Itulah yang ku maksud makin jauh dari kemanusiaan.

Atau ini cuma karena aku takut dengan segala hal yang berbau rumah sakit mungkin. Aku takut disuntik, ngeri melihat jarum suntik (makanya aku selalu kagum dengan diriku yang penakut ini ternyata tetap bisa punya anak sampai tiga, bayangkan saja prosesnya). Ngeri melihat alat-alat kedokteran yang lain yang ada di rumah sakit. Mungkin alat-alat kedokteran yang tidak kutakuti itu cuma stetoskop. Bahkan alat pengukur tekanan darah bisa membuatku takut karena kadang mereka memompa lengan kita terlalu kuat hingga tangan kita mati rasa.

Entahlah...yang pasti sudah hampir enam tahun ini aku tidak pernah ke dokter. Aku bersyukur penyakitku tidak ada yang berat. Kalau sakit masih bisa diatasi dengan istirahat yang cukup, makan yang banyak atau kadang ditambah sedikit obat umum yang dijual bebas.

Semoga sampai tua bisa kujaga kesehatan diriku dan keluargaku, jadi kalau harus ke dokterpun cukup untuk konsultasi saja, tidak usah sampai dirawat.

Dan temanku itu. Dia sudah pulang dari rumah sakit tapi masih akan kembali ke rumah sakit supaya perut kanannya itu dirawat. Pembengkakan empedu atau apa. Mau dilaser katanya. Entah bagaimana lagi prosesnya. Semoga dia cepat sembuh dari sakit apapun yang dideritanya.

Ah....

Wednesday, July 21, 2010

Mana Pemimpinku...??


Tulisan ini sebenarnya sudah punya kerangka sekitar sebulan yang lalu tetapi baru sekarang dapat dilanjutkan dan dituangkan dalam tulisan seperti seharusnya karena kemalasan yang tidak perlu (keluh!). Baik, mari kita mulai.

Tanggal 15/6 yang lalu saat aku sedang mencari-cari saluran TV yang acaranya enak ditonton, aku dihentikan oleh acara yang sedang disiarkan HBO. Entah apa judulnya. Aku menyaksikan Barack Obama yang presiden US itu tengah menyampaikan pidato kampanyenya sehari sebelum hari pemilihan presiden US tanggal 4 November 2008 di Charlotte,North Carolina. Aku berharap yang kutulis akurat, karena aku tidak menonton acara itu dari awal. Yang pasti, pidato kampanye itu disampaikan dalam suasana Obama sedang berkabung karena nenek yang menurut pernyataannya telah membesarkannya baru saja meninggal dunia pagi itu.

Dalam kondisi seperti itu Obama tetap menyampaikan pidatonya yang terasa tulus dan tetap penuh semangat, penuh energi. Sesuatu yang jarang sekali kita temui dalam pidato pemimpin-pemimpin kita di Indonesia.

Dalam tayangan itu, aku menyaksikan mereka yang mendengarkan dan mengikuti pidato Obama ikut tergetar hatinya, di antara mereka ada yang pelan-pelan mengusap air mata. Betapa isi pidato itu telah membangkitkan semangat pendengar. Mereka yang mengikuti pidato itu paham akan arti memiliki suatu bangsa. Di situ terlihat jelas kepedulian seorang pemimpin kepada rakyatnya. Hal itu dapat kita simpulkan dalri kalimat sederhana seperti," Tadi pagi nenek saya yang telah membesarkan saya meninggal dunia. Dia bukan siapa-siapa, Tidak ada yang mengenalnya. Dia hanya di rumah mengurus keluarganya, anak-anaknya, cucu-cucunya. Tapi dengan begitu, dia telah melakukan pengorbanan yang bisa dia lakukan untuk negara ini. Banyak sekali orang-orang seperti dia. Orang-orang yang telah melakukan pengorbanan untuk negara, tetapi tidak dikenal oleh banyak orang.....".

Bisakah Anda membayangkan efek ucapan semacam itu dengan intonasi, mimik, ketulusan dan semangat yang sungguh-sungguh bagi para pendengar kampanyenya? Aku saja yang bukan warga US, hanya menonton dari TV, terlambat lagi, karena itu kejadian hampir dua tahun yang lalu, masih merasa tergetar. Pidato itu turut membuatku merasa berarti, berharga sebagai wanita, walau 'hanya' bertugas mengurus keluarga, membesarkan anak-anak di rumah. Menyadari bahwa itu adalah suatu pengorbanan besar. Itu adalah pekerjaan besar yang hasilnya bisa mngubah wajah dunia. Obama telah melihat itu, dan menggunakan itu untuk menarik simpati pemilihnya.

Tetapi sekali lagi, pidato itu begitu tulus dan bersemangat. Aku yakin dia sungguh-sungguh dengan apa yang diucapkannya.

Suamiku bilang, hanya (presiden) Soekarno yang pidatonya bisa menggetarkan hati seperti itu. Aku belum pernah mendengarkan pidato Soekarno. Sekarang jadi pengin mendengar juga jadinya.

Setelah kupikir-pikir selepas acara Obama ini selesai, sesungguhnya aku rindu menunggu kemunculan pemimpin-pemimpin semacam ini di Indonesia. Bukan hanya 'seolah-olah' pemimpin seperti yang ada sekarang ini, pandainya membuat berita yang membuat rakyatnya menjadi hopeless. syukur-syukur kalau nggak sampai muntah darah.

Bahkan dalam pidato-pidato mereka, jika disimak ada saja kejanggalan-kejanggalan pernyataannya di sana-sini. Boro-boro bisa menggetarkan hati. Jauh......
Contoh paling gres setelah heboh dana aspirasi untuk anggota dewan bulan Juni lalu adalah TDL (tarif dasar listrik) naik lagi (akibatnya sudah tahu sendirikan saking seringnya naik), pemilihan calon tunggal gubernur BI yang mengantongi sekian banyak kasus, dan masih banyak laaagi saudara-saudara, jika harus disebutkan satu persatu. Lebih baik Anda menonton Metro TV untuk mengetahui hal itu dan saksikanlah para pemimpin Indonesia bersilat lidah tanpa malu dan empati untuk rakyat.

Duh Gusti....!

Friday, May 21, 2010

My Name is Khan


Film ini dibintangi Kajool dan Shah Rukh Khan, dua bintang India favoritku.
Setelah lama tidak melihat mereka berdua main film bersama setelah “Kuch Kuch Hota Hai” yang fenomenal, film ini mengobati kerinduan penggemarnya untuk melihat mereka bersama lagi. Chemistry keduanya itu lho yang luar biasa. (Shah Rukh Khan is so cute and Kajool is sooooooo …..beautiful, and I love them so much)

Aku sebenarnya bukan penggemar film India. Tapi aku suka sekali dengan lagu-lagu dan koreografi tarian dalam film-filmnya. Dulu lagu-lagu dan tarian-tariannya itulah yang menarik perhatianku. Tapi bila kutelusuri lebih jauh, mungkin ketidaksukaanku itu disebabkan olok-olok yang sering kuterima saat kecil aku menonton film India. Orang-orang sekitarku sering berkomentar tentang film India dengan nada mencemooh. Film India tidak realistislah karena jagoannya nggak mati-mati meski ditembak berapa kali, jagoannya pasti menang di akhir film jadi tidak ada unsur kejutan, mau sedih mau senang nyanyi terus joget terus. Dan komentar lainnya yang membuat aku merasa malu nonton film India. Kayak nggak bisa milih film bagus gitu deh.

Yah.dengan mindset yang dibikin begitu, aku betul-betul malu hati sendiri kalau mau nonton film India. Kesannya kok ah…filmnya gitu-gitu doang…belum lagi masalah air mata yang menetes setiap kali nonton, karena ada saja adegan yang menguras air mata (padahal kalo nonton film bule ataupun film awak, mau pemerannya nangis menjerit-jerit tertunduk-tunduk nggak bisa juga bikin aku nangis).

Kurasa itu justru menjadi kekuatan film India, mereka hampir selalu berhasil mengharu biru perasaan penonton. Jadi kalau menonton film India bersiaplah dengan minuman dan snack (karena durasi filmnya yang panjang lebih dari 2,5 jam) dan sekotak tissue (untuk diam-diam mengelap air mata yang netes. Duh!)

Tapi tunggu dulu. Apakah semua orang yang nonton film India bisa nangis? Tidak lho. Atau jangan ngomong film India deh. Apakah semua orang kalau nonton film yang ceritanya sedih bisa nangis? Ternyata tidak. Ada orang yang dengan berbagai alasan tidak tergetar hatinya hingga menangis atau berpura-pura tidak tergetar dan setengah mati menyembunyikan tangis atau ada juga yang menolak tergetar untuk menangis.

Yang pasti, setelah bertahun-tahun aku merenung-renung dan merasa-rasakan, ternyata hanya apabila hati kita lembab, jiwa kita lembab barulah kita bisa tergetar saat menonton atau melihat sesuatu yang menyedihkan atau menyakitkan. Sebenarnya kita bersikap emosional begitu dan menjadi ‘cengeng’ justru karena jiwa kita bisa berempati pada orang lain. Dalam kasus yang lebih besar bisa dikatakan kita bisa merasakan penderitaan dan kesulitan orang lain seakan itu penderitaan dan kesulitan kita sendiri. Ini sungguh sulit. Seharusnyalah kalau kita bisa begitu kita tidak perlu malu, menutup-nutupinya, atau bersikap sok tegar.

Anakku yang kedua, usia 8 tahun, dan mengalami hambatan komunikasi dalam kehidupan sehari-hari. Agak sulit menerangkan sesuatu hal yang sederhana padanya bila tidak ada contoh nyata yang bisa dilihat atau dirasakan. Mulanya aku berpikir dia mengalami kesulitan dalam memahami film juga. Ternyata tidak.

Ini adalah kali kedua aku mengajaknya nonton film (India) bersama, dan ternyata saat scene sedih, dia ikut meneteskan air mata meskipun dia berusaha agar air matanya tidak terlihat oleh siapapun. Dia malu menangis. Hehehe…..lucu memang. Tapi jadinya kupikir dia faham dong dengan jalan ceritanya. Mengejutkan! Wah...tapi paragraf ini nggak ada hubungannya sama tulisan ini. Ok deh.

Bagaimanapun sepertinya 10 tahun terakhir ini perfilman India maju pesat. Film-filmnya sudah ‘terasa’ seperti film Hollywood. Action pemainnya, shoot-shoot gambarnya, tempo filmnya, ceritanya dengan setting mendunia. Perfilman Indonesia? Jauh dah….!

Dalam My Name is Khan ciri khas film India yaitu nyanyi dan joget masih ada meskipun tidak seperti kebanyakan filmnya yang lain. Dalam film ini lagu-lagu hanya menjadi sound track, tidak dinyanyikan oleh pemerannya. Mungkin itu polesan dari kerjasamanya dengan FOX studio Hollywood jadi ada sedikit perbedaan dibanding film India lainnya.

In short, My Name is Khan ok-lah…Anda penggemar Shah Rukh Khan dan Kajool harus nonton. Meskipun ini film serius, SRK masih sempat melucu dalam beberapa scene. Serius tapi lucu gitu loh. Kangen juga sih dengan kekonyolannya yang selama ini menjadi trade mark SRK.

Selamat menonton!

Saturday, April 24, 2010

Ghost Town


Film ini sedang diputar di HBO mulai tanggal 18 April yang lalu. Mungkin akan diputar selama 1 minggu. Dan setelah 3 hari mencoba menemukan jam tayangnya, baru hari ini aku punya kesempatan menonton film ini tuntas dari awal sampai akhir. Ya…3 hari ini aku sudah mencoba menonton, tapi pemutarannya selalu pas pada saat aku harus mengerjakan sesuatu juga, jadi cuma bisa kulihat bagian awalnya, tengahnya, atau akhirnya. Syukurlah akhirnya hari ini aku bisa menonton hingga usai.

Dibintangi actor Inggris Ricky Gervais yang entah kenapa kupikir pas sekali dengan tokoh dokter gigi yang diperankannya (kalaupun ada yang mengganggu hanya gigi taringnya yang kelihatan runcing saat dia tertawa). Juga Greg Kinear dan Tea Leoni yang kusenangi sejak filmnya Family Man bersama Nicolas Cage.

Cerita film ini sederhana, seperti yang juga sering diangkat oleh film-film sejenis yang lain, yaitu tentang let it go, tentang merelakan seseorang yang telah meninggal dunia. Bahwa intinya seseorang menjadi roh gentanyangan, menjadi hantu, itu bukan karena mereka mati penasaran (dalam beberapa kasus memang begitu ya?) tetapi sebagian besar karena yang hiduplah yang tidak merelakan kematian mereka. Urusan mereka belum tuntas dengan yang di dunia. Begitu yang di dunia, yang masih hidup menyadari hal itu, dan sedikit saja tumbuh kerelaan, maka yang mati langsung dapat melanjutkan perjalanannya. Kemana? Wah…di film ini tidak diceritakan dan aku juga tidak ingat pengalaman matiku jadi tidak bisa bercerita di sini…

Tetapi apa yang disampaikan dalam film ini benar adanya. Memang begitulah keadaannya. Bahwa sebenarnya bersama-sama kita hidup sekarang ini juga berkeliaran roh-roh yang belum tuntas urusannya dengan dunia. Hanya kita tidak bisa merasakan keberadaannya. Kecuali mereka yang cukup peka. Dan masalah peka ini, aku punya pengalaman pribadi.

Sewaktu ibuku meninggal karena gagal ginjal 10 tahun yang lalu, aku didera rasa bersalah yang luar biasa karena merasa: adalah kesalahanku tidak bisa mencarikan biaya untuk pengobatan ibuku maka ibuku menjadi meninggal. Karena dihantui rasa bersalah itu, aku juga dapat merasakan roh ibuku disekitarku, dan perasaan itu bukanlah perasaan yang nyaman. Setahun kemudian barulah aku memahami duduk perkara masalahku ini. Segera setelah kesadaran itu timbul, kerelaan muncul dihatiku, aku yang tidak bisa tidur setahun terakhir, hari itu tidur nyenyak untuk pertama kalinya. Saat itu aku tahu, ibuku telah dapat melanjutkan perjalanannya karena aku telah merelakannya. Jadi aku benar-benar paham cerita yang disampaikan film ini karena mengalaminya sendiri.

Kembali pada film ini, inti cerita pada film Ghost Town ini demikianlah. Yang pasti film ini menyelipkan humor ala British yang garing. Seperti pada bagian dr Pincus (Ricky Gervais) bertanya pada rekannya dr Prashar terjadi dialog lucu yang sulit dipahami banyak orang tapi menggelikan buatku.

dr Pincus: Anda berasal dari daerah yang mengerikan itu bukan?
dr Prashar : (dengan ekspresi sebal tapi maklum dengan sifat rekannya) Saya dari India
dr Pincus : Ah ya..maksudku Anda bukan orang Kristen seperti kami.
dr Prashar : Bukan, saya seorang Hindu.
dr Pincus : Yeah..um...Bagaimana cara orang Hindu mengorek keterangan dari musuhnya?
dr Prashar : (sambil tersenyum) Well...sebagai seorang Hindu ...kami akan bertanya dengan sopan....

Hahahaha……Lucu ? Atau nggak paham? …Nggak apa-apa…buat saya tetap lucu.

Atau dibagian lain saat dr Pincus berusaha menjelaskan duduk perkara tentang merelakan yang mati pada Gwen (Tea Leoni), bukannya membahas duduk perkaranya mereka malah membahas masalah penis mumi yang disimpan dalam toples.

dr Pincus : ………….mengapa orang mati harus dikuburkan dengan perhiasan, dengan binatang peliharaan, mengapa harus diperlakukan seperti itu, mereka bahkan menyimpan penisnya dalam toples besar…maksudku mengapa? ...mengapa mereka melakukan itu?.
Gwen : (dengan wajah tidak percaya) kau lihat sendiri penisnya, mana muat kalau ditaruh dalam toples kecil…
drg Pincus : (dengan wajah bingung, tidak percaya dsb) kenapa harus dimasukkan ke dalam toples? …. Ouh….Bukan ini masalahnya ..untuk apa semua itu? ………..…..

Hahahaha……
Aku suka humor semacam ini. Maksudku bukan humor tentang penis ya. Tapi bagaimana dari suatu keadaan biasa yang serius kalau kita lihat dari sudut lain malah terasa lucu.

Yah…dari film sederhana ini macam ini tetap ada pelajaran yang bisa diambil jika kita mau jeli sedikit melihatnya dan tidak menganggap sebuah film murni hanya hiburan semata.

Selamat menonton juga bagi Anda. Siapa tahu ada yang berminat dengan humor garing macam ini seperti saya.

Samarinda 21 April 2010

Thursday, August 27, 2009

Akhirnya............

Akhirnya masyarakat luas mulai mendapat informasi yang lebih jelas dari media berkaitan dengan terorisme ini. Sudah sejak bertahun-tahun yang lalu aku tahu dari beberapa informasi bahwa terorisme ini terorganisir dengan baik dan didanai dari luar, Timur Tengah, Arab Saudi, dengan tujuan (ah...mudah-mudahan tidak apa aku menulis begini.....) membuat negara boneka dalam arti dikuasai secara ideologi, ekonomi dan budaya. Tetapi kalau waktu itu kita bicara blak-blakan bisa-bisa malah dicurigai yang bukan-bukan. Kini setelah Polri dengan jelas menyatakan telah mendapat bukti bahwa aliran dana untuk kegiatan terorisme itu dari luar, barulah ada yang berani berbicara bahwa selama ini penelitian yang mereka lakukanpun menunjukkan hasil yang sama. Ada ternyata pengamat masalah keislaman yang tahu, mencatat dengan baik tetapi selama ini informasi itu tidak bisa disebarkan pada secara luas pada waktu-waktu yang lalu. Barulah sekarang dia bisa berbicara di TVOne paling tidak dimana aku menontonya pagi ini, tentang penelitiannya itu.

Kompas Minggu (23/8) yang lalu juga memberitakan di Banten, ada keluarga yang harus berurusan sampai polisi karena penampilan mereka yang mencurigakan, yaitu berjenggot, memakai celana cingkrang, istrinya memakai burqa (yang terus terang saja aneh untuk dilihat di Indonesia) dan masyarakat merasa curiga karena selama ini penampilan teroris ya model begitu, sehingga menginterogasi mereka yang nyaris berakhir pada penghakiman massa sebelum diambil alih polisi. Bukan...bukan masalah aku benci dengan kelompok Islam model begini, tetapi aku senang bahwa filter itu mulai dilakukan masyarakat. Hal yang sebelumnya tidak pernah terjadi. Padahal banyak sekali kasus semisal sebuah mesjid yang semula untuk aktivitas warga lama-lama dikuasai kelompok tertentu dan warga malah sulit untuk mengakses kembali. Kini masyarakat mulai terbuka, sadar dan melakukan protek awal. Akhirnya......setelah hampir 20 tahun gerakan Islam radikal mulai meyebar baru masyarakat bisa mulai sadar.

Filter-filter semacam isu Polri akan memantau khotbah yang berisi provokasi yang berujung pada perpecahan dan mengarah pada radikalisme juga angin segar baru bagi masyarakat awam. Meskipun Plori sendiri kelihatan ragu-ragu dan tidak ingin disalahkan sehingga berhati-hati sekali dalam menyikapi dan membuat pernyataan, tetapi beberapa tokoh MUI maupun NU sudah menyatakan dukungannya dengan menyampaikan sikap akan menghimbau para Imam mesjid untuk memperhatikan isi khotbah mereka. Yang kelihatan tidak senang malah salah satu partai yang berbasis agama yang merasa tindakan pengawasan ini berlebihan dan bukan wewenang Polri. Tapi mungkin kita semua mahfum kalau partai ini memang punya agenda sendiri, entahlah apa presiden kita juga mahfum akan hal itu dan berhati-hati mengingat partai ini bagian yang cukup besar dalam koalisi pemerintahannya dan dalam 5 tahun terakhir berkembang pesat sehingga nyaris menimbulkan kecurigaan. Tapi siapa yang berani ngomong terang-terangan sekarang?

Kembali pada penguasaan negara dalam bentuk penguasaan ideologi, ekonomi dan budaya, itu sebenarnya sudah terlihat bahwa kita telah diinfiltrasi jauh sekali hingga ke sendi-sendi pemerintahan. Berapa banyak sekarang pemerintah daerah yang mulai menerapkan perda syariah di daerahnya yang masih ada kemungkinan menyebar ke daerah yang lain. Berapa banyak peraturan yang muncul dalam bidang pendidikan yang mengarah ke satu ajaran tertentu, misal kewajiban jilbab sebagai seragam sekolah, pelajaran etika yang diterjemahkan menjadi pelajaran agama, atau tari-tarian kita yang terancam punah hanya karena kostum tari tidak mencerminkan keislaman? Bagaimana dengan segala macam bentuk bantuan dari luar untuk pembangunan Islamic Centre misalnya, tentu saja hasilnya luar biasa bukan main, kita senang, tapi di belakang bantuan itu apa tujuannya? Karena jaman sekarang tidak ada yang free. Selalu saja di belakangnya ada, ”saya bantu anda tapi......anda bantu juga kami”. Belum lagi lembaga keuangan syariah yang bermunculan seperti orang terkena latah. (Padahal cara kerja dan aturan main sama saja lho dengan yang katanya non islami, bedanya cuma di istilah...) Sekarang sepertinya malah mulai merambah ke retail. Mereka bisa jual barang super murah dan masih ditambah diskon tambahan untuk member. Kalau kita hitung-hitung bingung dah bagaimana mereka tetap dapat untung, tapi ah...menarik sekali ini untuk masyarakat awam yang umumnya berpikir yang penting dapat mencukupi kebutuhan hidup sehari-hari. Ada yang jual barang murah, kenapa tidak? Efek yang jauh tak kan terpikirkan oleh mereka. Itu bukan tugas mereka memang. Seharusnya tugas negara, tapi......

Akhirnya masyarakat mulai sadar. Paling tidak untuk kasus terorisme ini dulu. Mungkin belum sampai kecurigaannya pada hal lain-lainnya. Tetapi ini langkah awal yang menggembirakan. Akhirnya kebenaran mulai mendapat jalan untuk muncul di permukaan. Sekali lagi semoga ini adalah titik awal dari gelombang besar kebenaran yang akan muncul kemudian.

Semoga!

Sunday, August 16, 2009

Teroris sang Selebriti

Tahukan Anda apa yang paling banyak menyita perhatian di layar kaca Indonesia akhir-akhir ini? Tepat sekali! Drama pengepungan, penembakan, penangkapan gembong teroris yang paling di cari Noordin M Top. Tadi pagi seharusnya ada jumpa pers dari pihak Polri apakah benar identitas orang yang tertangkap terakhir di Temanggung adalah Noordin M Top atau bukan. Dan saya termasuk yang tidak sabar menunggu berita itu selengkapnya karena drama penangkapan ini begitu lama dan terus menerus ditayangkan oleh televisi. Selak bosan!

Bukan apa-apa sih. Saya setuju bahwa penangkapan para teroris itu (sebenarnya saya lebih suka menyebut mereka itu penjahat biasa, karena mereka tidak lagi mampu meneror saya saat ini) penting sekali dan harus dilakukan. Tetapi penayangan drama penangkapan terus menerus di televisi itu menimbulkan gangguan.

Saya terganggu karena menunggu proses yang begitu lama. Polisi saya yakin juga terganggu karena mereka jadi harus ekstra hati-hati dalam bertindak. Salah-salah bukan terorisnya tertangkap malah tindakan mereka yang akan dipermasalahkan. Hal-hal yang tidak seharusnya timbul, bisa timbul karena apalagi yang bisa dilakukan reporter TV sementara menunggu untuk membuat berita selain mengorek-ngorek cerita yang ada.

Ditelisik, dikorek, dipertanyakan, sehingga kadang-kadang hal yang prinsip malah dilewatkan. Kita sibuk dengan pernak-pernik pelanggaran kecil. Jadi jangan heran polisi terlihat lambat sekali mengambil keputusan dan tindakan. Lha wong disorot sekian banyak saluran televisi jee.....

Bukan kasus baru kalau polisi yang melakukan kesalahan prosedur malah dibantai habis-habisan oleh media massa. Tapi sikap polisi yang tegas malah jarang disanjung, dianggap biasa saja. Aneh memang media massa kita ini.

Still.....tetap saja drama penangkapan teroris ini saya anggap berlebihan kalau ditayangkan marathon seperti ini. Apalagi kita ini kan masih belajar demokrasi, pers kita masih belajar demokrasi, jadi banyak hal yang mereka kira adalah kemerdekaan karena kita hidup di negara demokrasi justru malah jadi boomerang. Tapi pembelajaran memang perlu biaya. Dan apa yang tengah terjadi dalam masyarakat kita sekarang ini adalah harga yang harus kita bayar untuk sebuah pemahaman yang utuh tentang apa yang kita sebut demokrasi.

Sebenarnya di Indonesia sekarang ini sih lebih cocok dibilang democrazy daripada demokrasi....

Tulisan ini rada ngelantur...tapi yah sebel saja melihat teroris jadi sama tenarnya bak selebritis...padahal yang mereka lakukan sangat berbeda.

Bagaimanapun saya salut dengan kerja Polri dengan Tim Densus 88-nya. Bravo Polri dan tetaplah punya sikap dan ketegasan dan memberi harga mati untuk NKRI.

Merdeka!

Thursday, July 30, 2009

Hamba vs Kekasih

Ini cuma sekelebat percakapan yang terjadi di kepalaku pagi ini.

Sore kemarin aku membaca kalimat 'hamba Allah' di TV pada ...line. Aku bahkan sudah lupa kalimat persisnya seperti apa. Berita tentang apa. Oh ya, mungkin berita tentang siapa yang mengakui telah membom hotel JW Marriott dan Rizt Carlton 17 Juli 2009 yang lalu. Aku tidak akan membahas isi beritanya atau apa yang tertulis pada ....line itu. Hanya kalimat 'hamba Allah' itu saja.

Aku berpikir, pantas saja para pembom itu bisa tersesat begitu, karena mereka menyatakan diri hamba Allah sih... Taukan hamba? Hamba itu abdi, pembantu, pelayan. Hubungannya terbatas hanya untuk mengabdi, memberi pelayanan, no question, no complain. Hanya menjalankan perintah tanpa berpikir, tanpa apa-apa. Ikut saja. Begitulah kalau seorang hamba(ditambah dengan sedikit blunder penjelasan dari pemimpinnya maka membom itupun jadi halal dan perintah Allah juga).

Beda dengan seorang pencinta, kekasih. Seandainya lebih banyak yang menyebut diri sebagai kekasih Allah, pencinta Allah, seperti para sufi selalu bernyanyi, akankah masih ada orang-orang yang bertindak membabi buta melakukan pembunuhan seperti bom-bom semacam itu? Tidak,.....pasti tidak.

Bagaimana mungkin kita bisa menyakiti yang kita kasihi, yang kita cintai. Tetapi kita bisa menyakiti majikan, tuan kita. Kekasih? Tidak.

Kita tidak akan menyakiti seorang kekasih, sungguh-sungguh kekasih. Kita bahkan rela berkorban apa saja, rela menderita untuk kebahagiaan sang kekasih.

Apakah berhenti menggunakan kata 'hamba Allah' dan menggantinya menjadi 'kekasih Allah' akan dapat merubah keadaan juga?

Entahlah. Coba saja.